<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pustaka Marola</title>
	<atom:link href="http://pustakamarola.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pustakamarola.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Aug 2011 02:13:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pustakamarola.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pustaka Marola</title>
		<link>http://pustakamarola.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pustakamarola.wordpress.com/osd.xml" title="Pustaka Marola" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pustakamarola.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Inyik Lunak Si Tukang Canang</title>
		<link>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/02/16/inyik-lunak-si-tukang-canang/</link>
		<comments>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/02/16/inyik-lunak-si-tukang-canang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 11:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan CERPEN]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang PRRI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakamarola.wordpress.com/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[Pada masa PRRI. Otang, teman Si Dali, pulang kampung. Seperti banyak orang lain sebelum APRI menyerbu. Otang seorang gembong. Juga bukan pegawai negari. Kalau Otang pulang kampung juga, hanyalah karena alasan khusus. Katanya, karena solider pada Pak Natsir, tokoh idolanya, yang mengirimnya magang dipeternakan Amerika di Florida selama setahun. Tapi pengetahuan peternakannya itu tidak bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=360&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada masa PRRI. Otang, teman Si Dali, pulang kampung. Seperti banyak orang lain sebelum APRI menyerbu. Otang seorang gembong. Juga bukan pegawai negari. Kalau Otang pulang kampung juga, hanyalah karena alasan khusus. Katanya, karena solider pada Pak Natsir, tokoh idolanya, yang mengirimnya magang dipeternakan Amerika di Florida selama setahun. Tapi pengetahuan peternakannya itu tidak bisa dipraktikkan di kampungnya. Selain hambatan sosial budaya, Juga oleh masalah modal.  Karena itu dia menetap saja di Jakarta.  Menunggu perobahan kondisi dan situasi yang akan dapat mengangkat martabat dirinya.</p>
<p>Katanya, betapa dia tidak akan solider.  Dari seorang berayah pemilik warung, lalu berkesempatan melihat Amerika yang serba wah seperti yang diangankannya ketika nonton film-filmnya. Bahkan lebih dari pada solider itu, ialah karena perasaan malu pada diri sendiri bila tidak solider.  Otang menikah sebelum dia ke Amerika. Alasan orang tuanya di kampung, agar Otang tidak kecantol pada gadis di sana, lalu tidak mau pulang lagi. Pada mulanya Otang keberatan. Namun segera saja dia setuju demi ketemu calon istri yang secantik bintang film Titien Sumarni. Bedanya hanya tanpa tahi latat di bibir atas. Ketika kembali ke kampung karena ikut PRRI, dia sudah punya dua anak. Dan selama di kampung dia tidak bekerja apapun. Memang tidak ada yang bisa dikerjakannya. Karena semenjak sekolah di kampung sampai ke Amerika pun dia tidak belajar untuk bekerja. Dia betajar untuk jadi orang tahu tentang berbagai ilmu. Dalam masa perang ilmu tidak berguna. Yang diperlukan, kalau tidak senjata, ya akal. Minimal akal-akalan.<br />
<span id="more-360"></span><br />
Tibalah masanya kampung Otang diduduki APRI. Oleh PPRl disebut dibebaskan. Maka tiba pulalah masanya Otang harus bekerja memegang pacut. yaitu bergotong-royong massal dan ronda malam di kecamatan. Di kala gotong-royong semua laki-laki berbaur.  Apa orang tua, apa petani, apa guru, apa haji, apa datuk, apalagi orang semacam Otang. Bagi Otang sekali mengayunkan pecut, melepuhlah tetapak tangannya. Telapak tangan melepuh, tidak dapat dijadikan alasan istirahat dari bergotong-royong.</p>
<p>Yang Jadi komandan APRI di kecamatan itu berjabatan Bintara Urusan Teritorial, kronimnya Buter. Talib namanya. Sersan Mayor pangkatnya. Orangnya berbobot besar. Bedegab, kata penduduk. Suaranya bariton. Jika berteriak, kecutlah semua orang. Berpacu bunyi pacul pada batu untuk mengeluarkah rumput. Lama-lama Buter Talib jarang mangawasi gotong-royong. Namun perintah gotong-royong datang hampir saban hari. Melalui seruan Inyik Lunak dari ujung ke ujung kampung, sambil memalu canang yang berbunyi cer cer cer. Karena pada paro bahagian canang itu sudah pecah. Dan suara Inyiak Lunak itu pun sarak seperti selaput suaranya juga pecah.</p>
<p>Gotong-royong hampir setiap hari itu sangat menjengkelkan Otang. Juga semua orang. Bukan karena kehilangan waktu untuk bekerja, juga merasa sengaja dihina sebagai orang taklukan. Sehingga setiap mendengar bunyi cer cer cer dari canang yang dipukul dan di-iringi suara pecah Inyik Lunak, lama-lama berakibat pada ketidak-suksan Otang pada Inyik Lunak. Setiap berpapasan dengan Inyiak Lunak di jalan, dia selalu melengos ke arah Lain. Kalau lagi nongkrong di lepau Mak Mango di sudut pasar, lalu Inyiak Lunak datang, dia buru-buru pergi. Sebaliknya jika Inyiak Lunak sudah tebih dulu nongkrong, dia batal masuk lepau itu.</p>
<p>Bahkan Otang kian mual pada Inyiak  Lunak setetah tahu, apa yang ditakukan Buter Talib ketika semua laki-taki beryotong-royong. Bersama salah seorang kopralnya dia masuk kampung keluar kampung menzinai istri-istri orang-orang PRRI yang terus bertahan di pedalaman. Kopral Jono juga berbuat yang sama. Camat Basri yang orang kampung itu sendiri pun sama dengan yang lain dan yang lainnya lagi. Pembantu Ispektur Polisi Hartono meniduri kedua anak gadis Sudira, sipir Penjara. “Mau apa kita? Bilang apa kita” itulah kata-kata yang kaluar dari mulut penduduk negeri yang ditaklukan itu.</p>
<p>Akhirnya, meski tidak ikut perang, cuma karena rasa simpati saja, dia harus membayar mahal seperti orang taklukan yang lain. Sengsara jugalah jadinya Otang. Sengsara bukan karena bersimpati kepada PRRI, melainkan karena istrinya cantik. Atun yang semula jadi istri dibanggakan, kini menjadi ranjau darat yang membelah-belah jantungnya. Pada waktu penduduk diperintah gotong-rotong, Buter Talib mampir ke rumah Atun. Malah Buter Talib konon pernah menginap ketika giliran Otang ronda malam.</p>
<p>Awal-awalnya Otang tidak tahu apa yang terjadi. Mertuanya tidak memberi tahu. Apalagi Atun. Wajah keruh kedua perempuan itu setiap Otang pulang dari bergotong-royong tidaklah difahami Otang. Pada mulanya memang begitu. Tapi ketika Inyiak  Lunak si tukang canang membisikkan agar Atun diantar ke kota, dia mulai membauni kasus yang sebenarnya. Otang mencak-mencak, Atun dicaci maki karena tidak melawan perkosaan itu. Dia pun mengomeli ibu mertuanya yang bersekongkol.<br />
&#8220;Otang, cobalah kau tempatkan dirimu sebagai si Atun, atau sebagai aku sendiri ketika bencana itu tiba. Apa mungkin kami melawan? Apa mestinya kami mengadu padamu, supaya Si Talib yang berkuasa itu kau hajar?” kata ibu mertuanya setelah gelegak darah Otang mulai mereda.</p>
<p>Otang tak terhibur. Setumpuk sesal menghimpit dirinya. Menyesal dia tidak ikut memanggul senjata melawan APRI. Kalau dia jadi tentera PRRI, pasti dia akan menembak APRI semacam Buter Talib itu. Dua hal yang tidak mampu dia rasali. Pertama dia pulang kampung karena alasan solider pada Pak Natsir. Kedua karena Atun begitu cantiknya. Tapi membawa isteri dan anaknya pulang kampung karena yakin PRRI akan menang perangnya, adalah salah perhitungan yang paling disesalinya.</p>
<p>Dia marah pada Buter Talib. Marah sekali. Juga benci dan jijik. Tapi nyalinya hilang demi melihat semua orang berbaju hijau, seperti Buter Talib terlebi-lebih. Dia sadar, bahwa dia bukan laki-laki yang jantan. Karena dia tidak pernah belajar jadi jantan, sejak dari sekolah sampai ke Florida sana. Dia hanya medengar dan menerima apa kata guru dan kata buku.</p>
<p>Maka ketika Bupati Kasdut, teman sekolahnya dulu yang kapten pangkat militernya, datang inspeksi ke kecamatan, Otang menemuinya.  Diceritakannya perilaku tentara pada penduduk…….&#8221;Kalau cara APRI datang membebaskan daerah ini menjunjung rasa kemanusiaan berbangsa, tiga bulan saja PRRI sudah habis. Tapi karena tentara bersikap ganas, merampok, memperkosa istri-tstri orang, perang akan lama. Karana PRRI tidak akan menyerah kepada musuhnya yang ganas, walaupun bertahun-tahun di hutan rimba.&#8221;</p>
<p>&#8220;ltu dunia tentera, Otang. Resiko buruk bagi yang kalah perang. Tentara orang awak pun sama ganasnya ketika melakukan operasi militer ke  daerah lain.&#8221; kata Bupati Kasdut yang kapten itu. </p>
<p>&#8220;Dengan bangsa sendiri mesti berlaku ganas?&#8217;</p>
<p>&#8220;ltu kebijaksanaan komando agar rakyat di daerah mana pun tidak lagi berkhayal untuk berontak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Menegakkan kebijaksanaan dengan cara yang ganas itu apa APRI dapat menjadi pahlawan yang dicintai rakyat?”</p>
<p>&#8220;Sampai saat ini kebijaksanaan komando tidak akan berobah.&#8221; kata Kapten Kasdut yang Bupati itu.</p>
<p>Otang lalu ingat slogan masa itu: &#8220;Jika takut pada bedil, lari ke pangkalnya.&#8221; Tak ada gunanya melawan orang yang sedang menang perang. Dan ketika Bupati Kasdut kembali ke kota kabupaten, Otang minta ikut. Dan semenjak itu seisi kampung tidak ada yang tahu kemana dan dimana Otang.</p>
<p>****</p>
<p>Dua puluh lima tahun kemudian, si Dali ketemu Otang di Jakarta. Di rumah Kasdut yang sudah pensiun dengan pangkat kolonel. Sudah jauh beda gaya Otang. Tenang. Terlihat alim. Gaya bicaranya lembut, Lunak, menurut Nawar. Dia memelihara jenggot. Model Haji Agus Salim. Putih warnanya. Di kepalanya bertengger kopiah beluderu hitam yang apik letaknya. Si Dali tidak lupa padanya. Dia pun tidak. Tapi dia tidak bergabung dengan si Dali di ruang tengah, Dia di ruang belakang dengan ibu mertua Kasdut yang berusia hampir detapan puluh tahun.<br />
&#8220;Dia sudah jadi penghulu sekarang. Datuk Rajo Di Koto nama gelarnya. Dipitih dan ditabalkan oleh kaumnya yang merantau di sini. Kata orang, gelar itu disebut gadang menyimpang. Tidak lazim menurut adat. Urusan kaum itulah itu.&#8221; kata Kasdut yang ketika sebelum pensiun telah ditabalkan pula jadi Datuk oleh kaumnya di kampung. Datuk Raja Kuasa gelarnya. Gelar yang pantas bagi seorang kolonel yang pernah jadi Bupati. &#8220;Kalau aku, aku dapat gelar yang sah menurut adat. Disepakati oleh seluruh kaum di kampung dan dirantau lebih dulu.&#8221; lanjutnya kemudian.</p>
<p>Si Dali penasaran kenapa Otang lebih suka berbaur dengan nenek itu dari pada dengan sahabat lama yang dua puluh lima tahun tidak ketemu. Dugaan Si Dali jadi miring. Mungkin dia tidak suka ketemu Si Dali, karena mau menghindar dari luka lama masa perang PRRI. Luka karena Buter Talib meniduri Atun. Kemudian menyerahkan Atun kepada Buter pengganti dan penggantinya lagi. Tapi itu cerita lama. Apa dia masih dendam setelah Buter Talib dan teman-temannya membayar dosa-dosanya setelah pemberontakan komunis dikalahkan? &#8220;Dia sudah dua kali ke Mekkah.&#8221; kata Kesdut selagi Si Dali merenung. Katanya lagi seolah-olah tidak begitu penting: “Ibu mertuaku membawanya jadi muhrim. Duitnya tentu saja dari aku. Dari siapa lagi, bukan?&#8221;</p>
<p>SeJak berangkat dari kampung, keluar dari daerah peperangan, Otang ke Jakarta membawa segala luka dan perih di hati. Kota itu diharapkannya mampu melupakan masa lalu. Nyatanya kota itu lebih menaburkan racun masa lalunya. Terutama melihat orang-orang berbaju hijau seragam yang menggandeng perempuan yang nampak oleh matanya tidak lain dari orang-orang seperti Buter Talib yang menggandeng Atun. Ada rasa mual mau muntah dalam perutnya. Akhirnya dia mengurung diri di rumah iparnya tempat dia menumpang.</p>
<p>Kalaupun dia keluar rumah, tidak tebih jauh dari pagar halaman.</p>
<p>Untuk membunuh sepi dia membaca buku-buku agama, karena buku-buku itu tidak bicara tentang konflik yang melukai. Isi buku itu pun tidak untuk direnungkan. Karena dia tidak suka membebankan pikirannya. Koran atau majalah dihindarinya. Kalau tidak membaca, Otang mengerjakan apa saja yang bisa dilakukannya di rumah itu. Membersih-bersih, membenahi kerusakan kecil.</p>
<p>Akhirnya dia keluar juga dari persembunyiannya karena harus ikut menghadiri pemakaman seorang kemenakannya. Sekali keluar dari isolasi, hampir berterusan dia jarang di rumah di siang hari. Hampir setiap hari dia berkunjung dari satu rumah ke rumah lain, yang semuanya adalah dunsanak atau orang kampung seasal. Dia diterima dengan tangan dan hati terbuka. Meski oleh kerabat Atun. Terutama oleh orang-orang tua yang telah kehilangan kesibukan yang memerlukan sahabat dan kenalan tempat berkisah menghabiskan waktu. Otang dapat mengisi tuntutan kebutuhan orang-orang seperti itu. Lama-lama dia tahu betul apa yang diperlukan mereka. Perempuan-perempuan menyukai berita sekitar perjodohan dan kematian orang-orang seasal di kampung maupun dirantau. Laki-laki lebih menyukai berita situasi di kampung atau reputasi orang-orang sekampung mereka. Yang pegawai suka pada berita kenaikan pangkat orang-orang dikenal mereka.</p>
<p>Otang tidak mencari berita-berita itu. Berita itu dia pungut dari orang-orang yang ditandanginya. Lama-lama jadilah Otang sebagai sumber berita otentik. Diapun tahu berita yang disukai di masing-masing mereka dan masing-masing golongan. Lama-lama Otang seperti sosok yang dirindukan. Sama dengan kerinduan orang pada loper koran.</p>
<p>Lama-lama Otang mendapat jodoh juga. Seorang janda dari salah satu keluarga yang secars rutin dikunjungi. Bagaimanapun suatu rumah tangga memerlukan biaya. Meski menurut kata mertuanya ketika melamarnya, Otang tidak pertu memberi belanja pada istrinya. Namun Otang adalah seorang laki-laki yang ingin istrinya berarti. Terpandang tinggi melampau Atun yang secantik bintang film itu. Karena itu dia perlu sumber nafkah. Pekerjaan yang menghasilkan uang. Pekerjaan apa yang dapat dilakukannya dalam umur yang sudah saparo baya itu? Bekerja di kantor? Kantor apa yang mau menerimanya. Berdagang? Dagang apa? Apa dia bisa? Modalnya mana? Otang bingung. Waktunya sehari-hari lebih banyak habis mencari kemungkinan mendapat pekerjaan yang sesuai dan pantas. Pagi dia sudah keluar rumah, menjelang malam baru dia pulang.</p>
<p>Semua orang-orang tua yang dikunjunginya secara rutin itu pun bingung. Mereka bingung karena Otang tidak lagi datang. Kemudian ada seorang dokter tua yang tidak lagi praktek karena usia. Biasanya dia memanggil Otang menurut gaya lama: Engku Otang. Dokter itu berkata: &#8220;Engku Otang, apa yang Engku lakukan, sebetulnya sama dengan yang aku lakukan sebagai dokter mengunjungi pasien. paham?</p>
<p>Sebenernya Otang tidak paham. Namun dia mengangguk juga. Lama kemudian baru dia pahan setelah berdiskusi dengan istrinya. Mestinya dia dibayar pada setiap kunjungan ke rumah-rumah itu. Jangan hanya dikasi makan atau minum setiap berkunjung. Lalu ketika akan pergi diselipkan selembar uang ke sakunya diiringi ucapan: &#8220;Sekadar sewa oplet.&#8221; Tapi bagaimana caranya minta bayaran kepada kenalan dan orang-orang sekampungnya itu? Rikuh rasanya.  Menurutnya berkunjung ke rumah-rumah orang itu bukan suatu profei yang bersifat komersial seperti dokter. Namun istrinya lagi yang memberi gagasan. &#8220;percuma saja uda belajar di Amerika dulu.&#8221;</p>
<p>SeJak itu kunjungan-kunjungan rutin ke rumah-rumah mereka itu dia kacaukan jadwalnya, baik hari maupun jamnya. Tentu saja dia disambut dengan rasa cemas dan sedikit omelan manja. Alasannya Otang sederhana saja. yakni oleh karena ada kesibukan baru. Maklum dia sudah beristri dan bertanggung jawab kepada rumah-tangganya. Kadang-kadang dia katakan betapa sulitnya dia dapat bus atau oplet.<br />
&#8220;Kenapa tidak pakai taki saja, Engku.&#8221; kata mereka pada umumnya. Nah, sejak itu Otang mendapat biaya taksi. Padahal dia tetap memakai kenderaan umum. Pada perempuan tua yang suka bicara agama, Otang tahu sekali kisah yang mereka sukai. Misalnya kisah Nabi Musa masa kecil yang dihanyutkan ibunya di sungai Nil, lalu terdampar dekat istana Firaun. Atau kisah Zulaika yang tergila-gila pada Nabi yusuf, atau kisah kesetiran Khadijah pada Nabi Muhammad dan sebaliknya. Kalau ada kasus yang aktual, Otang tak lupa mengkajinya dengan menyitir Al-Quran atau Hadist Nabi. Tak obahnya seperti seorang dai yang handal. Adakalanya dibawanya buku agama untuk perempuan-perempuan itu, yang dibelinya di kaki lima simpang Kramat. &#8220;Buku ini bagus, Uni. Ada tulisan Arabnya. Ada Latinnya. Berulang-ulang membacanya, kian dakat kita kepada redha-nya.&#8221; kata Otang. Taklah lupa dia membacakan sebagian isinya. Tentu saja ketika akan pulang, perempuan-perempuan itu mengganti dengan berlipat ganda harganya, di samping member biaya taksi.</p>
<p>Oleh karena perantau seasal kampungnya banyak di Jakarta, rata-rata yang dapat dikunjunginya tiga empat rumah dalam sehari. Tujuh hari dalam seminggu. Masing-masing dikunjunginya sekali sebulan untuk orang-orang kaya atau pejabat. Sekali dua bulan untuk golongan lain. Pada hari seperti menjelang ldul Fitri atau setiap pedagang atau pengusaha selesai tutup buku tahunan, Otang kecipratan rezeki yang bernama zakat banyak. Oleh orang-orang kaya seperti itulah Otang sampai bisa dua kali ke Makkah. Sekali dia pergi bersama istrinya. Semua orang memberinya uang. Ada dollar. Ada real. Bahkan yen. Tentu saja ada rupiah. Dan semua dengan iringan basa-basi: “Sekedar pembeli korma.” Lumayan banyak. Hampir sebanyak ONH Plus.</p>
<p>****</p>
<p>Otang jatuh sakit. Kena stroke dan komplikasi lainnya, kata dokter. Di rumah sakit dia dirawat di bangsal. Setelah semalam dia dipindahkan ke ruang VIP. Karena ada banyak kenalannya yang menjamin biayanya. waktu Si Dali melayat, banyak karangan bunga pada berjejer di gang arah kamar Otang dirawat. Di kamarnya yang luas pun puluhan keranjang hias buah-buahan. Pada setiapnya ada kartu nama. Karena ingin tahu, Si Dali membacai kartu nama itu. Kartu nama pada karangan bunga di gang itu pun dia baca. Ada nama profesor yang top, pengusaha klas kakap, pejabat tinggi, staf ahli menteri dan juga nama Kasdut.</p>
<p>Otang membuka matanya ketika Si Dali memanggil namanya dekat ke telinganya. Lama dia menatap Si Dali dengan pandangan yang sayu. Seperti banyak yang akan dikatakannya. Terenyuh juga hati Si Dali. Namun dia tidak menampakkan betapa perasaannya. Dia coba tetap tersenyum untuk meyakinkan Otang bahwa sakitnya tidak gawat. Lama juga Si Dali meremas tembut lengan Otang yang tidak dipasangi alat infuse. Sampai Otang memicingkan mata seperti mau tidur.</p>
<p>Suara pelan pelayat yang duduk di rice terdengar nyata ke telinga Si DaLi.  Mungkin juga ke telinga Otang. “Engku Datuk ini manusia langka. Tak kan ada penggantinya kalau beliau tak kunjung sembuh&#8221; kata yang seorang.</p>
<p>&#8220;Beliau seperti perangkat komunikasi hidup.&#8221; ulas yang lainnya lagi.</p>
<p>&#8220;Tak obahnya seperti Inyiak  Lunak di kampung kita. Pembawa berita suka dan duka keliling kampung sambil memukul canang yang khas bunyinya karena telah pecah sebagian.&#8221;</p>
<p>“Tapi Inyiak  Lunak dengan canangnya cuma menyampaikan berita buruk saja.&#8221;  Kata yang lain lagi.</p>
<p>Tiba-tiba Si Dali merasakan getaran kuat pada tangan Otang yang dipegangnya. Demikian juga kaki Otang seperti hendak menerjang-nerjang. &#8220;Panggil dokter.” Kata Si Dali seperti berteriak. Dan semua orang serta merta berdiri di sekeliling ranjang Otang. Memandang dengan rasa cemas. Bingung karena tidak tahu mau melakukan apa.  Tak lama kemudian dokter tiba. Semua pelayat disuruh keluar.  Mereka menanti di ruang tunggu khsus pelayat dengan perasaan masing-masing.</p>
<p>Si Dali duduk pada kursi fiber. Pikirannya tertumpah pada kondisi Otang yang tiba-tiba gawat. Pikirannya menjalan kemana-mana dalam mencari sebab-sebab Otang yang secara tiba-tiba gawat itu. Apa Otang merasa tersinggung karena mendengar kata-kata salah seorang pelayat, yang menyamakannya dengan Inyiak  Lunak si tukang canang dengan canangnya yang pecah?</p>
<p>Si Dali yakin menyebut nama Inyiak Lunak dekat Otang, apalagi menyamakan dirinya, membangkitkan luka masa lalunya. Masa lalu ketika perang berkancah dikampung halamannya. Ketika negara memandangnya sebagai penghianat bangsa. Ketika istri dan mertuanya sama menghianatinya.  Ketika ukuran dan nilai kekhianatan tidak lagi jelas.</p>
<p><strong>A.A. Navis</strong><br />
Kayutanam, 5 Desember 1997</p>
<p>(<em>Diketik ulang dan dilewakan seizin Uda Dedi Navis</em>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakamarola.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakamarola.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakamarola.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakamarola.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakamarola.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakamarola.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakamarola.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakamarola.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakamarola.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakamarola.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakamarola.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakamarola.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakamarola.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakamarola.wordpress.com/360/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=360&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/02/16/inyik-lunak-si-tukang-canang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b810c7dc99378ba54d59e5330e25a44d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">marola</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PRRI: Kisah dari Nagari “Pembangkang”</title>
		<link>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/02/13/prri-kisah-dari-nagari-%e2%80%9cpembangkang%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/02/13/prri-kisah-dari-nagari-%e2%80%9cpembangkang%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 04:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang PRRI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakamarola.wordpress.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Devy Kurnia Alamsyah ‘Civis pacem parabellum’ (untuk berdamai harus siap berperang) AHMAD Husein menegaskan langkahnya. Ia seakan beradu dengan waktu. Ada sesuatu kecamuk dalam dirinya. Ultimatum yang ia layangkan lima hari lalu pada Kabinet Djuanda untuk menyerahkan mandatnya, lalu meminta Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX untuk membentuk suatu kabinet hingga pemilu selanjutnya. Serta meminta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=373&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Devy Kurnia Alamsyah</strong></p>
<p>‘<em>Civis pacem parabellum’ (untuk berdamai harus siap berperang)</em></p>
<p>AHMAD Husein menegaskan langkahnya. Ia seakan beradu dengan waktu. Ada sesuatu kecamuk dalam dirinya. Ultimatum yang ia layangkan lima hari lalu pada Kabinet Djuanda untuk menyerahkan mandatnya, lalu meminta Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX untuk membentuk suatu kabinet hingga pemilu selanjutnya. Serta meminta Presiden Soekarno untuk kembali kepada posisi konstitusionalnya. Tuntutan ini tak digubris oleh Pemerintah Pusat. Tak ada pilihan lain, pikirnya. Kami bebas dari kewajiban patuh kepada Soekarno sebagai Kepala Negara. 15 Februari 1958, di Padang, Ahmad Husein memproklamirkan berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Sjafruddin Prawiranegara—yang sebelumnya merupakan pemimpin PDRI—terpilih sebagai Perdana Menteri.<br />
<span id="more-373"></span><br />
Piagam Palembang, yang sebelumnya diserukan pada tanggal 8 September, merupakan satu kesepakatan antara petinggi militer Sumatera dan intelektual sipil bahwa ada sesuatu yang salah dengan Indonesia saat itu—terutama kisruh politik antara Pusat dan Daerah. Kolonel Barlian, Husein, Sumual (dari militer) menuntut enam hal;<br />
(1) pemulihan dwitunggal Soekarno-Hatta,<br />
(2) penggantian pimpinan Angkatan Darat,<br />
(3) melaksanakan otonomi daerah,<br />
(4) pembentukan senat di samping Dewan Perwakilan Rakyat untuk mewakili daerahdaerah melaksanakan otonomi daerah,<br />
(5) meremajakan dan menyederhanakan pemerintah dan<br />
(6) melarang komunisme di Indonesia.<br />
Kehadiran M. Natsir, yang tengah berseberangan dengan Soekarno terkait Nasakom, dalam pertemuan Palembang itu memberi pengaruh besar di dalam sidang tersebut. Bahkan, Natsir tetap berdiri terus bersama PRRI hingga konflik ini berakhir.</p>
<p>Dean Almy, seorang Konsul AS di Medan, menemui para pembangkang. Selain menyerahkan uang tunai sebesar 50.000 dollar AS, juga dibahas realisasi bantuan senjata bagi 8.000 personil militer pembangkang Sumatera. Allan Dulles, Direktur CIA yang juga otak dari segala aksi di belakang upaya pembunuhan Soekarno, kemudian bertemu dengan Presiden Eisenhower mengenai kemungkinan operasi militer ‘skala kecil’ di Sumatera yang disebut dengan ‘Haik Operation’.</p>
<p>Serangan pemerintah pusat ke Sumatera Barat diberi nama “Operasi 17 Agustus” dan dipimpin langsung oleh Kolonel Ahmad Yani—orang yang kini namanya jadi salah satu nama jalan utama di Kota Padang. Mungkin, tak pernah ada pembasmian pembangkang republik yang sebesar ini di Indonesia jika dilihat dari banyaknya jumlah korban. Entah kenapa Pusat begitu semangat menghancurkan Sumatra Barat—yang berbeda dengan Sumatera Utara atau Sumatera Selatan—yang memang tak memiliki aset Amerika di daerahnya. Amerika sepertinya membiarkan saja Sumatera Barat digempur habishabisan. Atau inikah taktik Eisenhower?</p>
<p>Jenderal Nasution melaporkan sebanyak 22.174 korban sebagai laporan resminya. Angka itu belum termasuk korban sipil yang mungkin pula puluhan ribu jumlahnya. Inilah kemudian yang disebut Audrey Kahin sebagai momen mundurnya Sumatera Barat di republik ini—the lost of intellectual groups.</p>
<p>Jika Mestika Zed menggambarkan bagaimana terhinanya masyarakat Minangkabau setelah penumpasan PRRI oleh pusat atas julukan pemberontak ataupun pembangkang yang kemudian dilekatkan atas diri mereka—seakan-akan ini adalah bentuk diskriminasi sosial—maka tenanglah, hari ini tak akan ada lagi pemberontak yang lahir di Sumatera Barat.</p>
<p>Apakah orang yang ingin meluruskan cita-cita kemerdekaan ketika pendapatnya berseberangan dengan penguasa harus selalu dicap pemberontak? Dicap pembangkang? Bukankah Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, M.Yamin, M.Natsir, Abdul Muis, Hamka, Agus Salim dan lain-lainya itu adalah para pembangkang terbesar yang pernah ada? Jika mereka tak membangkang pada praktikpraktik kolonialisme sungguh tak mungkin kita bisa merasakan Indonesia seperti saat ini—yang tentunya sudah keluar dari apa yang mereka perjuangkan dulu.</p>
<p>Tapi tenanglah. Pembangkang-pembangkang itu takkan lahir lagi dari nagari ini lagi. Karena jiwa-jiwa resah itu kini sudah berganti dengan jiwa-jiwa yang nyaman dalam ketidaknyamanannya. Orang Sumatera Barat tak akan menjadi seperti orang Jawa Barat yang meniadakan jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk di provinsi mereka karena mereka takkan mengganti jalan Ahmad Yani—orang yang melumatkan nagari para pembangkang atas panggilan tugas—dengan Ahmad Husein.</p>
<p>Nagari yang pernah dikutuk untuk tidak bisa tidak memikirkan republik ini mulai dari kelahirannya kini sudah cukup puas hanya dengan mengantar ke gerbang saja. Tidak untuk selamanya. Tenanglah, tak perlu lagi peluru itu dibeli dan dimuntahkan untuk membunuhi saudara sendiri yang mencoba mengkritisi penguasa—melalui pajak yang justru kami bayar sendiri. Jadi, tenanglah. Pembangkang sudah tak lahir lagi di nagari ini. Nagari ini sudah damai dalam ketidakdamaiannya.</p>
<p>Semoga saya salah. Turut memperingati 53 tahun PRRI. 􀂄</p>
<p>Diambil dari <em>e-Paper Harian Haluan</em>, 13 February 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakamarola.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakamarola.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakamarola.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakamarola.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakamarola.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakamarola.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakamarola.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakamarola.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakamarola.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakamarola.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakamarola.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakamarola.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakamarola.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakamarola.wordpress.com/373/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=373&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/02/13/prri-kisah-dari-nagari-%e2%80%9cpembangkang%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b810c7dc99378ba54d59e5330e25a44d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">marola</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MESTIKA ZED, GURU BESAR UNP : PRRI Itu Pemberontak yang Pemberani</title>
		<link>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/02/13/mestika-zed-guru-besar-unp-prri-itu-pemberontak-yang-pemberani/</link>
		<comments>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/02/13/mestika-zed-guru-besar-unp-prri-itu-pemberontak-yang-pemberani/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 04:18:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang PRRI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakamarola.wordpress.com/?p=371</guid>
		<description><![CDATA[PEMERINTAH pusat menetapkan PRRI sebagai pemberontak. Apa alasannya? Sudah pasti demikian, dan saya pun sebagai pemerintah pusat akan mengatakan hal yang sama karena pendekatannya pendekatan formal. Ini sebuah negara sah Republik, tahu-tahu ada yang melawan di daerah. Wah. Ini pemberontakan. Ini tidak benar. Ya, karena itu dipandang dengan pendekatan formal. Ini negara legalistik berdasarkan UUD [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=371&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PEMERINTAH pusat menetapkan PRRI sebagai pemberontak. Apa alasannya?</strong></p>
<p>Sudah pasti demikian, dan saya pun sebagai pemerintah pusat akan mengatakan hal yang sama karena pendekatannya pendekatan formal. Ini sebuah negara sah Republik, tahu-tahu ada yang melawan di daerah. Wah. Ini pemberontakan. Ini tidak benar. Ya, karena itu dipandang dengan pendekatan formal. Ini negara legalistik berdasarkan UUD 1945. Itu alasan pertama.</p>
<p>Yang kedua, rezim itu sedang bulan madu otoriter. Apapun yang berbeda, mengusik, dan berbahaya harus dicarikan cap paten untuk memukulnya menjadi formal. Perbedaaan itu haram. Dan jelas dilarang. Artinya, Soekarno mulai ayun bambunya ke kiri, dan mulai berteman dengan PKI. Ini sudah sekian kali diperingatkan Hatta yang akhirnya mereka berseberangan. Hatta mengundurkan diri Desember 1956 karena tidak sejalan lagi dengan Soekarno. Meski begitu, secara personal mereka tetap dekat. Soekarno mengakatakan: “Tidak adalagi orang yang mau meluangkan waktunya untuk berbincang dengannya selain Hatta. Hanya Hatta yang melakukan dengan kenegarawanannya. Dua pendekatan yang bisa dipergunakan untuk menjawab itu.<br />
<span id="more-371"></span><br />
<strong>Anda setuju dengan sebutan pemberontak itu?</strong></p>
<p>Itu kan soal istilah. Kalau saya sendiri, PRRI itu tetap pemberontak. Pemberontak yang pemberani. Kalau berpikir formal, dia memang melakukan perlawanan kok. Tapi ingat, ini yang penting, tujuannya tidak untuk saparatisme. Dia tidak memberontak dalam pengertian ingin menjadikan negeri sendiri, seperti yang dicap jakarta. Tidak. Dia hanya ingin mengoreksi, mengoreksi apa yang menyimpang dari konstitusi. Banyak poinnya itu. Kalau kita paralelkan, tokoh lintas agama itu mirip sewaktu PRRI dengan menguraikan kesalahankesalahan pemerintah.</p>
<p><strong>Dalam banyak hal, justru perjuangan PRRI menemukan bentuknya kembali di zaman sekarang. Muncul narasi-narasi kecil di daerah?</strong></p>
<p>Ini karena mental kolonial masih melekat hingga kini dan tidak berubah-rubah. Kenapa begitu? Salah satunya, dan ini yang sedang saya tulis sekarang, pemegang negara ini narsisitik, selalu memuji diri. Coba Anda tanya ke pejabat dinas dan pejabat pemerintahan, pasti akan dikatakan, “Saya sudah berbuat begini, begitu, tapi ngerti g orang dengan apa yang diperbuat? Nol besar.” Ternyata polanya sama secara teoritis. Apabila negara atau pemimpin sudah mengabaikan rakyat, akan muncul narasi-narasi kecil. Muncul gerakan-gerakan yang mencoba menyelesaikannya masalahnya sendiri. Tidak bisa dihambat. Ini hukum sejarah. Apa yang terjadi dengan uni soviet, kan juga seperti itu. Ketika negara sudah diambil oleh tampuk kekuasaan otoriter dan mengabaikan tangung jawab atau melalaikan kepeduliannya terhadap rakyat. Dia sudah menyediakan bibitbibit protes atau ketidakadilan terhadap rakyat. Di saat itu, akan timbul semacam ketidakpuasaan dan berharap ada soluisi. Solusi tidak muncul, muncul narasi kecil. Narasi kecil ini saling bertalian nanti. Muncul di Padang, Jakarta, Medan, dan semuanya. Negeri ini menjadi terbakar. Kalau tidak ada jawaban yang tuntas, ini yang namanya gerakan rakyat.</p>
<p>Kepercayaan saya sekarang adalah terhadap masyarakat madani, yaitu masyarakat sipil. Mereka berkesempatan untuk mengubahnya. Ada contoh, ketika kasus Prita, gerakan rakyat tumbuh dengan mengumpulkan Koin.</p>
<p><strong>Ada kesulitan membedakan PDRI dan PRRI?</strong></p>
<p>Satu, perbedaannya, PDRI berhadapan dengan Belanda. Sementara PRRI berlawanan dengan Jakarta, rezim yang dinilai sama kolonialnya dengan rezim dulu. Kedua, PDRI memang sebuah gerakan nasional yang meluas di manamana, tidak hanya di Sumatera, tapi di Jawa, menjadi bagian dari PDRI. Ketika PRRI, gerakan yang dipelopori Sumbar, memang hanya bagian dari Sumatera didukung Permesta.</p>
<p>Tapi persamaannya banyak sekali, mulai dari medannya, rute yang ditempuh, juga pemimpinnya. Yang penting, spiritnya sama dalam arti melawan rezim kolonial. Kolonial itu memiliki pengertian sendiri. Pengertiannya, satu, mempertahankan ketergantungan (dependen). Orang dibikin tergantung terus. Antara yang dijajah dan terjajah. Dipimpin dengan yang dipimpin. Kedua, eksploitif.</p>
<p>Menguras. Walau sudah lama merdeka, kolonial itu masih utuh. Faktanya, UU kita sangat pro-elit, menindas yang di bawah.</p>
<p><strong>Ketakutannya adalah pemberontakan terjadi di banyak daerah. Rakyat tidak percaya lagi kepada pemimpin. Apa yang terjadi?</strong></p>
<p>Pemimpin tidak belajar pada masa lalu. Tidak ada proses pembelajaran dalam pemimpin kita. Pemimpin dalam pengertian rezim yang berkuasa itu, sudah kehilangan sejarah. Ibarat sumur tanpa dasar. Demi masa depan, tapi sebetulnya sudah kehilangan roh. Roh kita sebenarnya sederhana, kenapa kita merdeka untuk apa kita merdeka? Itu kan pertanyaan sederhana, tapi mana ada orang yang peduli sejarah? Menurut saya ini keliru besar.</p>
<p><strong>Apa yang bisa kita pelajari dari PRRI ini?</strong></p>
<p>Saya kira menyuarakan dan untuk mengingatkan. Paling tidak kita generasi sekarang, di saat tidak banyak harapan tumbuh dari penyelenggara negara, khususnya penegakan hukum, masyarakat madani atau potensi-potensi sosial harus bersuara mencari penyelesaian. Kemandirian masyarakat akan semakin kuat.􀂄<br />
(Pewawancara Andika Destika Khagen)</p>
<p><strong>Susunan Kabinet PRRI</strong><br />
1. Perdana Menteri/ merangkap Menteri Keuangan: Mr. Sjafruddin Prawiranegara<br />
2. Wakil Perda Menteri: Moh. Natsir<br />
3. Menteri Dalam Negeri: Kolonel M. Dahlan Djambek (Kemudian digantikan oleh Mr. Assaat Dt. Mudo)<br />
4. Menteri Luar Negeri : Kolonel Maluddin Simbolon<br />
5. Menteri Pertahanan/merangkap Menteri Kehakiman: Mr. Burhanuddin Harahap<br />
6. Menteri Perdagangan/merangkap Menteri Perhubungan: Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo<br />
7. Menteri PP dan K: Engku Moh. Sjafe’i<br />
8. Menteri Kesehatan/merangkap Menteri Pembangunan: Kolonel J.F. Warrow<br />
9. Menteri Agama: Mochtar Lintang<br />
10. Menteri Pertanian: Saladin Sarumpaet<br />
11. Menteri Sosial: Ayah Gani Usman<br />
12. Menteri Perhubungan Pos, Telegraf dan Telepon: Kolonel M. Dahlan Djambek<br />
13. Menteri Penerangan: Mayor Saleh Lahade<br />
14. Kepala Staf Angkatan Perang PRRI: Kolonel A.E. Kawilarang (Atase Militer di Washington yang meniggalkan posnya bergabung dengan PRRI)<br />
15. Kepala Staf Angkatang Darat: Letkol Ventje Sumual</p>
<p>Diambil dari <em>e-Paper Harian Haluan</em>, 13 February 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakamarola.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakamarola.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakamarola.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakamarola.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakamarola.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakamarola.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakamarola.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakamarola.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakamarola.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakamarola.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakamarola.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakamarola.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakamarola.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakamarola.wordpress.com/371/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=371&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/02/13/mestika-zed-guru-besar-unp-prri-itu-pemberontak-yang-pemberani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b810c7dc99378ba54d59e5330e25a44d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">marola</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>53 TAHUN GERAKAN PRRI : Harga Mati sebagai Pemberontak</title>
		<link>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/02/13/53-tahun-gerakan-prri-harga-mati-sebagai-pemberontak/</link>
		<comments>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/02/13/53-tahun-gerakan-prri-harga-mati-sebagai-pemberontak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 04:14:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang PRRI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakamarola.wordpress.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[CAP sebagai pemberontak bagi PRRI oleh Pemerintah Pusat masih terus disematkan hingga kini. Padahal, gerakan PRRI sebagai perjuangan koreksi bagi jalannya pemerintah. Lalu sampai kapan cap pemberontak melekat pagi yang terlibat dalam gerakan PRRI? The twilight in Jakarta. Suatu senja kala di Jakarta. Hari itu 15 Februari 1958. Lima puluh tiga tahun silam. Sejumlah wartawan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=368&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>CAP sebagai pemberontak bagi PRRI oleh Pemerintah Pusat masih terus disematkan hingga kini. Padahal, gerakan PRRI sebagai perjuangan koreksi bagi jalannya pemerintah. Lalu sampai kapan cap pemberontak melekat pagi yang terlibat dalam gerakan PRRI?</em></p>
<p>The twilight in Jakarta. Suatu senja kala di Jakarta. Hari itu 15 Februari 1958. Lima puluh tiga tahun silam. Sejumlah wartawan asing memasuki halaman rumah kediaman Menteri Luar Negeri RI Dr Subandrio, Jalan Merdeka Barat, Jakarta. Ternyata rumah itu kosong. Dari paviliun kanan muncul seorang diplomat muda, Ganis Harsono, Mantan Atase Pers Kedutaan Besar RI di Washington.</p>
<p>Di depan Ganis, wartawan New York Times, Bernie Kalb berteriak keras. “Apa macam kalian semua ini, hah? Di mana Perdana Menteri Djuanda sekarang? Dimana Menteri Luar Negerimu Subandrio? Semua tak ada di tempat. Tak ada seorang pun yang bisa dimintai keterangan. Apa macam, nih?”<br />
<span id="more-368"></span><br />
Lalu Ganis Warsono menyuruh para wartawan asing itu pergi ke Menteng, Pusat Perwakilan Negara-Negara Asing. “Di sana beliau-beliau itu akan bertemu. Ada Prime Minister Djuanda dan ada Menlu Subandrio,” kata Ganis. </p>
<p>Tapi Hans Martinot, wartawan ANP (Algeemeen Nederlands Persbureu) dari Belanda berteriak lagi: “Hei, Ganis! Kau jangan berlagak pintar. Kau pasti sudah mendengar satu jam yang lalu RRI Bukittinggi dan Padang telah menyiarkan Proklamasi PRRI (Pemerintah Revolusioner Repunblik Indonesia di Padang).”</p>
<p>Demikian ditulis almarhum Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie, dalam bukunya Mesin Ketik Tua terbitan Pusat Pengkajian Islam Minangkabau (PPIM) tahun 2005.</p>
<p>Saat itu 15 Februari 1958. Genderang perang ditalu. Pemicunya, ketidakpuasan daerah kepada Pemerintah Pusat: banyak senjang, tak sedikit yang timpang dalam roda pemerintahan. Komunis berkembang subur.</p>
<p>RRI Padang, Bukittinggi, Pekanbaru, Tanjung Pinang, dan Jambi pada waktu itu memang menunda siaran yang telah diagendakan lalu digantikan oleh pengumuman penting dari Ketua Dewan Perjuangan Letkol Ahmad Husein tentang terbentuknya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan Perdana Menteri Mr Sjafruddin Prawiranegara, yang sebelumnya merupakan pemimpin PDRI—dipilih Perdana Menteri.</p>
<p>Ahmad Husein membacakan tuntutannya untuk Pemerintah Pusat yang dikenal dengan “Piagam Perjuangan”. Isinya tuntutan itu:<br />
1). Bubarkan Kabinet Djuanda dan kembalikan mandatnya ke Presiden,<br />
2). Bentuk zaken kabinet nasional di bawah suatu panitia pimpinan M Hatta dan Hamengkubuwono IX,<br />
3). Beri kabinet baru mandat sepenuhnya untuk bekerja sampai pemilu mendatang,<br />
4). Presiden Soekarno/Pj. Presiden agar membatasi diri menurut konstitusi.<br />
5). Bila tuntutannya tak dipenuhi dalam tempo 5&#215;24 jam, Dewan Perjuangan akan mengambil kebijaksanaan sendiri.</p>
<p>Setelah membacakan “Piagam Perjuangan” itu, Ahmad Husein pun melantik Kabinet PRRI di Gubernuran Padang. </p>
<p><strong>Pecah di Tubuh Militer</strong></p>
<p>Menurut Rusli Marzuki Saria —akrab dipanggil Papa— salah seorang yang ikut bergabung dengan PRRI, terlepas dari sebutan apakah PRRI sebagai pemberontakan atau tidak, PRRI muncul merupakan akumulasi dari geliat militer yang banyak muncul sebelum kemerdekaan dan sesudahnya.<br />
“Ini dipicu karena faktor kekuasaan, militerisme, dan belum solidnya militer Indonesia,” kata Rusli Marzuki Saria yang bergabung PRRI saat berusia 22 tahun. Ia bergabung dengan Mobbri (kini Brimob) 106 Sumatera Tengah kepada Haluan, Sabtu (12/1).</p>
<p>Dijelaskannya, sekitar tahun 1945-1950, puluhan para para militer yang bergabung di antaranya Masyumi (tentaranya Hizbullah), PKI (tentaranya Tentara Merah Indonesia), Ninik Mamak (tentara adat), Perti (tentara Allah), dan sebagainya. “Sebagian besar tentara itu tak bergaji.”</p>
<p>Pada tahun 50-an pemerintah memberlakukan sistem gaji terhadap tentara dan mengatur secara benar organisasi militer ini, sehingga banyak tentara yang tersingkir. “Tentara-tentara yang sebelumnya ikut berjuang meraih kemerdekaan ini, banyak yang tersingkir karena berbagai persyarakat yang diterapkan pemerintah. Mereka inilah kemudian berkumpul dan melakukan perlawanan dari daerah-daerah,” jelas Papa.</p>
<p>Rusli Marzuki Saria saat itu bergabung dengan Kompi Mawar FK Unand. Di Kompi itu, ada banyak senjata pemberian Dewan Benteng, yaitu 12 buah basoka, 12 LMS, brengan, british LE, dan JS Karaben.</p>
<p>Diserang Kiri-Kanan</p>
<p>Pemerintah Pusat tak senang diultimatum. Lima hari setelah ancaman itu, Pusat kirim tentara ke Padang sebanyak 7.500-10.000 personil terdiri dari Kodam Diponegoro, Siliwangi, Brawijaya dan elit Banteng Raiders juga KKO khusus Marinir AL ke Sumatra Tengah (Minangkabau). Tidak cukup? Pusat memperkuat lagi dengan mengirim 5-7 kapal perang dan ditambah dengan pesawat tempur.</p>
<p>Kolonel Ahmad Yani memimpin penyerangan. Namanya Sandi Operasi 17 Agustus. Maka, berdarah-darahlah negeri ini. Dentuman dan raungan senjata perang sahut-menyahut. Perang sesama saudara sendiri. Saling mengunus senjata dengan saudara yang pernah sama-sama berjuang memerdekakan negeri yang bernama Indonesia ini.</p>
<p>Bagindo Fachmi, 70 tahun, salah seorang yang terlibat langsung dalam gerakan PRRI mengisahkan, gerakan PRRI sebagai perjuangan koreksi terhadap jalannya pemerintahan.<br />
“Pemerintah pusat saat itu tidak merasa ada yang perlu dikoreksi. Perlawan itu dinilai pusat sebagai pembangkangan terhadap pusat. Senjata adalah jawaban yang tepat pagi pusat. Pembangkangan para militer yang sakit hati. Di dalam teori militer, mereka disebut desersi. Maka, kebijakannya adalah tumpas,” kata Bagindo Fachmi.</p>
<p>Dewan Perjuangan yang diketuai oleh Letkol Ahmad Husein adalah gabungan dari dewan-dewan daerah seperti Dewan Benteng (Sumatera Tengah), Dewan Gajah (Sumatera Utara), Dewan Garuda (Sumatera Selatan), Dewan Lambung Mangkurat (Kalimantan Selatan), dan Permesta (Sulawesi Utara). Sekretaris Jenderal Dewan Perjuangan adalah Kolonel Dahlan Djambek, Deputy III KSAD yang bergabung dengan Dewan Banteng.</p>
<p><strong>Rapat Rahasia</strong></p>
<p>Dalam buku “Mesin Ketik Tua” disebutkan, lebih kurang sebulan sebelumnya yakni pada 8 Januari 1958 telah berlangsung rapat rahasia di Sungai Dareh, Kabupaten Sawah Lunto Sijunjung. Tempat rapat di sebuah gedung yang amat sederhana di tepi Sungai Batanghari yang dikenal dengan “Pasanggrahan”.</p>
<p>Dari pihak militer yang hadir, Letkol Ahmad Husein (Ketua Dewan Banteng), Kolonel Maludin Simbolon (Ketua Dewan Gajah), Letkol Barlian (Ketua Dewan Garuda), Letkol Venje Sumual (Permesta), Kolonel M. Dahlan Djambek (Deputi II KSAD yang bergabung dengan Dewan Banteng), Kolonel Zulkifli Lubis (Wakil KSAD yang menghilang).</p>
<p>Tokoh dari sipil adalah Moh Natsir, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Syarif Usman, Almez, Taher Samad, Duski Samad, H. Darwis Taram, Moh. Sjafe’i Kayutanam, Sulaiman, dan Sjarif Said. Rapat itu berlangsung dua hari dan berakhir tanggal 9 Januari 1958. Pertemuan hari pertama khusus militer dan hari kedua gabungan militer dengan politisi.</p>
<p>Dalam pertemuan rahasia tersebut disepakati bahwa sebulan setelah rapat Sungai Dareh yakni pada tanggal 10 Februari 1958 disampaikan tuntutan kepada pemerintah pusat melalui ultimatum 5&#215;24 jam. (h/naz/adk)</p>
<p><em>e-Paper Harian Haluan</em>, 13 February 2011 </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakamarola.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakamarola.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakamarola.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakamarola.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakamarola.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakamarola.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakamarola.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakamarola.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakamarola.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakamarola.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakamarola.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakamarola.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakamarola.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakamarola.wordpress.com/368/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=368&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/02/13/53-tahun-gerakan-prri-harga-mati-sebagai-pemberontak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b810c7dc99378ba54d59e5330e25a44d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">marola</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenangan Masa PRRI</title>
		<link>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/01/17/kenangan-masa-prri/</link>
		<comments>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/01/17/kenangan-masa-prri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2011 04:38:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan CERPEN]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang PRRI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakamarola.wordpress.com/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[Aku memanggilnya mak etek. Mak etek Jun. Namanya Junaidi. Usianya sudah lebih tujuh puluh tahun. Tapi sosok tubuhnya masih gagah. Giginya masih utuh. Kecuali rambut ikalnya yang sudah hampir putih semuanya, beliau terlihat lebih muda dari usianya. Mak etek Jun adalah seorang pensiunan guru. Terakhir, sebelum pensiun, beliau menjadi kepala sekolah dasar di kampung kami. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=375&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku memanggilnya mak etek. Mak etek Jun. Namanya Junaidi. Usianya sudah lebih tujuh puluh tahun.<br />
Tapi sosok tubuhnya masih gagah. Giginya masih utuh. Kecuali rambut ikalnya yang sudah hampir putih semuanya, beliau terlihat lebih muda dari usianya. Mak etek Jun adalah seorang pensiunan guru. Terakhir, sebelum pensiun,  beliau menjadi kepala sekolah dasar di kampung kami. </p>
<p>Kalau lagi pulang kampung, aku suka sekali berkunjung ke rumah mak etek Jun. Selalu saja menarik berbincang-bincang dengan orang tua ini. Cerita apa saja. Masalah keadaan kampung, masalah pendidikan anak-anak, masalah politik ala kadarnya, masalah korupsi. Karena beliau memang seorang pengamat yang baik untuk hal-hal semua itu. Namun yang paling aku sukai adalah cerita tentang pengalaman masa muda beliau ketika ikut bergerilya di jaman PRRI.<br />
<span id="more-375"></span><br />
Pada kunjunganku terakhir aku melihat sebuah foto hitam putih berukuran besar tergantung di dinding. Foto seorang laki-laki  bagurambeh. Berjanggut dan bercambang lebat. Itu adalah foto beliau di waktu muda, karena sangat jelas terlihat<br />
wajahnya meski dibalut cambang dan janggut seperti itu. </p>
<p>‘Kok baru kelihatan foto yang satu ini, mak etek?’ aku berkomentar. </p>
<p>‘He..he..he.. </p>
<p>Itu foto kenang-kenangan waktu baru balik dari rimba dulu. Si Pinto yang menemukan, lalu diperbesarnya dengan komputer, jadilah seperti itu. Dia pula yang membingkai dan meletakkan di situ,’ jawab mak etek Jun. </p>
<p>Pinto adalah cucu kesayangan mak etek yang sudah duduk di kelas tiga SMP.<br />
Aku mendekat ke dinding tempat foto itu tergantung untuk mengamatinya lebih jelas. Ada catatan tanggal dan<br />
tahun di bawah foto itu. </p>
<p>‘Tahun 1961?<br />
Belum pernah ambo melihat mak etek seperti dalam foto itu. Bagaimana pula ceritanya sampai bergurambeh lebat begitu?’ tanyaku. </p>
<p>‘Di hutan itu di mana pula ada pisau cukur. Paling ada gunting kecil untuk memangkas misai.<br />
Karena bertahun-tahun dibiarkan, jadilah seperti itu,’ jawab mak etek tersenyum. </p>
<p>‘Gagah dan berwibawa terlihatnya,’ aku menambahkan. </p>
<p>‘Mungkin maksudmu mengerikan ha..ha..ha… ‘ mak etek terbahak-bahak. </p>
<p>Aku tersenyum. </p>
<p>‘Semua teman mak etek di luar seperti itu?’ </p>
<p>‘Tentu tidak…. Ada yang memang berbakat. </p>
<p>Badannya penuh bulu. Tapi banyak juga yang kelimis.’ </p>
<p>‘Sampai seperti yang di foto itu…. Sudah berapa lama itu tidak dicukur?’ </p>
<p>‘Sejak lari ke luar hanya dua atau tiga bulan pertama saja masih sempat mengurusnya. Sesudah itu tidak pernah lagi.’ </p>
<p>‘Ulang pulalah cerita mak etek tentang lari ke luar itu. Masih ada yang belum ambo dengar. </p>
<p>Bagaimana awalnya mak etek sampai ikut?’ tanyaku. </p>
<p>Mak etek Jun menarik nafas. Matanya sedikit menerawang. Mungkin sedang menjemput ingatan lama. </p>
<p>‘He..he..he.. </p>
<p>Begini….,’ beliau mengawali.<br />
Aku mempererat duduk, bersiap mendengar cerita yang biasanya akan cukup panjang.<br />
‘Aku sudah mengajar di sekolah rakyat ketika perang pecah. Dulu, tamat dari SGB kami sudah diangkat jadi guru. Aku mengajar di Lambah. Berjalan kaki menyeberangi jalan kereta api dan jalan raya di Biaro. Pernah pada suatu siang, pulang sekolah, aku dihentikan tentara APRI di jalan raya itu. Mereka baru berani beroperasi di jalan raya, belum berani masuk ke jalan-jalan kampung. Mereka banyak sekali. Ada empat buah truk tentara dan tiga buah jip Rusia berhenti di tepi jalan.  Mereka memeriksa dan membentak-bentak. Setiap penumpang bendi yang datang dari arah Bukit Tinggi disuruh turun. Barang belajaan ibu-ibu diperiksa. Entah apa yang mereka cari. Ada beberapa orang laki-laki yang disuruh naik ke atas truk. Untungnya, kami guru-guru selalu membawa surat keterangan dari kepala sekolah yang menyatakan bahwa kami adalah guru. Waktu surat itu aku perlihatkan, tentara yang tadinya membentak-bentak sambil menyorongkan bedilnya ke arah dadaku, tidak lagi marah-marah dan aku dibiarkan meneruskan perjalanan pulang ke rumah. </p>
<p>Beberapa waktu kemudian, saat kami sedang liburan sekolah. Kami sedang mengirik padi di sawah di Bandar Panjang. Kecuali aku, yang bekerja siang itu semua orang tua-tua yang sudah berumur lebih lima puluh tahun. Kira-kira jam sebelas kami dengar derung mobil tentara di kejauhan. Mamakku, mak Endah menyuruh aku pergi bersembunyi. Tapi ada pula<br />
mamak yang lain, mak Malin menyuruh tinggal. ‘Kalau kau lari, bertemu di jalan, alamat kau akan dibedilnya. Lebih baik kau di sini saja,’ kata mak Malin. </p>
<p>Akupun lebih memilih untuk tidak pergi. Beberapa saat kemudian kami dengar beberapa kali bunyi tembakan. Mamak-mamak itu sama bergumam, mempertanyakan entah siapa pula yang sudah kena tembak. Tiba-tiba saja, telah muncul tiga orang tentara APRI, menuju ke arah kami sambil menodongkan senjata. ‘Angkat tangan,’ perintahnya.<br />
Aku memberi contoh bagaimana mengangkat tangan, karena ada di antara mamak-mamak itu yang tidak faham. </p>
<p>‘Kau…..! Kesini kau!’ perintahnya padaku. Akupun mendekat. </p>
<p>‘Kau pemberontak!’ hardiknya. Ujung bedilnya menempel di pelipisku. Aku berusaha tenang. Lalu aku jawab, bahwa aku seorang guru. </p>
<p>‘Bohong kau! </p>
<p>Mana surat-surat!’ hardiknya pula. </p>
<p>‘Kami sedang bergotong royong. Saya tidak membawa surat-surat,’ jawabku. </p>
<p>‘Bohong!’ bentaknya lagi. </p>
<p>Kali ini aku ditamparnya, persis di mukaku. Bukan main sakitnya. Tapi yang lebih sakit adalah hatiku. Tentara itu mungkin seumur denganku. Dan aku ditampar perai saja. Mana mungkin aku membalas. </p>
<p>Pondok kami diusainya. Mungkin dia curiga kalau-kalau ada senjata tersembunyi di sana. Mamak-mamak yang lain ditanyainya pula satu persatu. Mak Endah, mamakku yang memang terlihat tegap juga ditamparnya.<br />
Entah apa masalahnya aku tidak tahu.<br />
Aku dan dua orang dari mamak-mamak itu dibawa mereka pergi. Agak kecut juga hatiku kalau-kalau aku akan dibedilnya pula. Rupanya kami dibawa ke Lasi. Di sana kami disuruh menggali lobang di sekitar sebuah rumah. Rumah itu mereka rampas untuk jadi markas. </p>
<p>Ada puluhan orang yang bekerja paksa di sana, semua orang-orang yang mereka tangkap hari itu dari beberapa kampung.<br />
Sorenya mak ditemani mak tuoku datang ke Lasi membawa surat keteranganku. Komandan mereka lebih ramah kepada orang-orang tua itu. Aku dipanggil anak buahnya untuk menghadap. Tentara itu minta maaf atas perlakuan anak buahnya kepada kami. Dan sore itu kami semua diizinkan pulang. </p>
<p>Tapi maaf tinggallah maaf. Hatiku sudah bulat. Selama bekerja membuat lobang itu otakku  berpikir keras tentang pergi<br />
bergabung dengan tentara luar. Aku akan segera melakukannya. Aku akan membalas kekurangajaran tentara-tentara<br />
keparat ini. Yang telah menamparku. Memaksaku bekerja. Mereka adalah manusia-manusia tidak tahu sopan santun. Main bentak dan main tampar bahkan terhadap orang-orang tua yang pada hal adalah rakyat sipil. Dan entah berapa orang pula<br />
orang kampung yang mereka tembaki hari itu. Mereka memang tentara-tentara bengis dan semena-mena. </p>
<p>Dalam perjalanan pulang mak tuo bercerita bahwa di kampung kami saja siang hari itu empat orang anak muda lagi mati tertembak. Anak-anak muda yang berusaha menghindar waktu bersirobok dengan mereka. Anak-anak muda yang diteriaki supaya mengangkat tangan tapi tidak segera mengangkatnya. </p>
<p>Mereka ditembak dari belakang. Ada yang kepalanya pecah. Yang dadanya rengkah. Yang perutnya terburai. Darahku<br />
tambah mendidih saja mendengar cerita itu. Meskipun sampai sejauh ini aku selamat berkat surat keterangan guru,  bukan tidak mungkin, jika aku tetap bertahan di kampung besok atau lusa mereka akan menembakku pula. </p>
<p>Sesudah makan malam hari itu, secara tidak langsung aku beritahu mak bahwa aku akan ikut tentara luar. Beliau tidak setuju. Tapi aku jelaskan betapa besarnya resiko bagiku untuk tetap tinggal di kampung. </p>
<p>‘Apakah mak mau ambo mati serupa si Pudin pula?’ kataku. Si Pudin adalah kemenakan ayah yang ditembak tentara<br />
beberapa hari sebelumnya. Mak menangis malam itu. Beliau sangat faham tentang resiko dan kemungkinan itu. </p>
<p>Malam itu juga aku pergi menemui tuan Asmar. Beliau ini wali jorong. Tuan Asmar adalah penghubung dengan komandan tentara luar. Beberapa anak muda dari kampung kami yang sudah lebih dahulu pergi, memulai kontaknya melalui tuan Asmar. Kepada tuan Asmar aku sampaikan niatku itu.  ‘Sebenarnya kalau kau siap, malam ini juga kau bisa ikut dengan mereka. Kau tunggulah disini. </p>
<p>Biasanya mereka datang lewat tengah malam. Tapi kalau kau belum siap, biarlah aku sampaikan saja dulu niatmu itu kepada Tan Basa. Nah! Bagaimana pendapat kau?’ tanya tuan Asmar. Waktu itu sebenarnya aku siap saja. Tapi terpikir pula bahwa aku belum minta izin dengan bersungguh-sungguh kepada mak. Aku yakin beliau akan mengizinkan sesudah aku menjelaskan niatku tadi. Kusampaikan seperti itu dan tuan Asmar memahaminya. </p>
<p>Dua hari kemudian aku sudah benar-benar siap. Mak mengizinkan meski dengan tangis dan air mata. Jam sembilan malam aku berangkat dari rumah menuju rumah tuan Asmar. Dan malam itu aku ikut rombongan mak Tan Basa. Nama beliau Harun. Tentara berpangkat letnan. Sejak saat itu resmilah aku menjadi anak buah beliau.’ Aku mendengar cerita panjang mak etek Jun dengan mata tak berkedip. </p>
<p>‘Langsung diangkat jadi tentara? Maksud ambo, mak etek langsung diberi senjata?’ </p>
<p>‘Tidaklah. Aku dilatih dulu. Bukan latihan baris berbaris, tapi latihan mempergunakan senjata. </p>
<p>Sejak dari cara membersihkan sampai cara mempergunakannya.’ ‘Berapa lama latihannya itu?’ </p>
<p>‘Hanya beberapa pekan saja.’ </p>
<p>Terdengar azan asar. Kami mengakhiri obrolan sampai di situ. </p>
<p>                                                                        *****<br />
==============<br />
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam<br />
Dimuat di Milis RantauNet</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakamarola.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakamarola.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakamarola.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakamarola.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakamarola.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakamarola.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakamarola.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakamarola.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakamarola.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakamarola.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakamarola.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakamarola.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakamarola.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakamarola.wordpress.com/375/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=375&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakamarola.wordpress.com/2011/01/17/kenangan-masa-prri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b810c7dc99378ba54d59e5330e25a44d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">marola</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Roehana Kuddus, Sang Wartawati Pelopor</title>
		<link>http://pustakamarola.wordpress.com/2010/12/19/roehana-kuddus-sang-wartawati-pelopor/</link>
		<comments>http://pustakamarola.wordpress.com/2010/12/19/roehana-kuddus-sang-wartawati-pelopor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Dec 2010 11:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakamarola.wordpress.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Atas perjuangannya membela kaum perempuan lewat tulisan-tulisannya, dia mendapatkan bintang jasa. Perempoean haroes menggerakan diri Patoetlah poela mengeloearkan peri Penarah kesat nak hilang doeri Penghentian goenjing sehari-hari Petikan syair yang terdapat dalam halaman Soenting Melajoe terbitan 27 Juni 1912 adalah goresan milik Roehana Kuddus. Inilah cermin kegelisahan pada ketakadilan terhadap perempuan di masa itu. Rasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=315&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Atas perjuangannya membela kaum perempuan lewat tulisan-tulisannya, dia mendapatkan bintang jasa.</strong></p>
<p><em>Perempoean haroes menggerakan diri<br />
Patoetlah poela mengeloearkan peri<br />
Penarah kesat nak hilang doeri<br />
Penghentian goenjing sehari-hari</em></p>
<p>Petikan syair yang terdapat dalam halaman Soenting Melajoe terbitan 27 Juni 1912 adalah goresan milik Roehana Kuddus. Inilah cermin kegelisahan pada ketakadilan terhadap perempuan di masa itu. Rasa gelisah yang lama mengendap dalam benaknya, bahkan bergejolak sejak Siti Roehana, si gadis kecil itu, masih berusia delapan tahun.</p>
<p>Perempuan asli Koto Gadang yang lahir pada 20 Desember 1884 itu kerap kali bertanya, mengapa perempuan tak boleh bersekolah seperti anak laki-laki. Pertanyaan itu tak lantas terjawab. Namun, Roehana kecil agaknya cukup beruntung. Kendati tak bersekolah, sang ayah yang bekerja sebagai hooft jaksa, rajin memberikan koran dan majalah pada sang putri. &#8220;Ayah memberikan saya koran dari mana-mana dan kadang memesan buku-buku dari Singapura untuk saya baca,&#8221; tuturnya, pada wartawan harian Api Pantjasila pada 22 Mei 1966.<br />
<span id="more-315"></span><br />
Pada usia yang masih sangat muda, Roehana telah menjadi seorang &#8216;guru&#8217; bagi teman-temannya. Dengan senang hati dia mengajarkan mereka membaca dan mengeja nama mereka sendiri. </p>
<p>Bahkan, dia pun rajin mendongeng. Cerita Bundo Kanduang adalah kegemarannya. Kisah tentang seorang ratu yang pernah memimpin Kerajaan Pagaruyuang amat dikaguminya. Agaknya, kebesaran, kehebatan, kepemimpinan, dan kebijaksanaan Bundo Kanduang amat membekas dalam benaknya.</p>
<p>Keteladanan itu pula yang membuat Roehana tak berhenti. Pada 11 Februari 1911, Roehana mendirikan sebuah sekolah keterampilan di Koto Gadang yang diberinya nama Kerajianan Amai Setia (KAS). Di sini, para perempuan diajarkan kerajinan tangan, membaca, dan menulis huruf Arab, Melayu, dan Latin. </p>
<p>Kendati jalannya tak lempang, Roehana tak henti berjuang demi kaumnya. Namun, dia mempunyai cara sendiri. Roehana memilih berjuang lewat goresan pena, lewat tulisan-tulisannya yang bernas. Pada 10 Juli 1912, Roehana mendirikan surat kabar khusus perempuan, Soenting Melajoe. Dibantu oleh Soetan Maharadja yang saat itu menjabat sebagai pemimpin redaksi surat kabar Oetoesan Melajoe serta seorang redaktur pelaksana di Padang, Roehana memimpin surat kabar tersebut dari Bukittinggi.</p>
<p>Di koran itu, Roehana tidak hanya membicarakan nasib perempuan di tanah Melayu, tetapi juga di belahan negara lainnya di dunia. Dia juga bersentuhan dengan politik dan memberikan gagasan bahwa perempuan juga bisa terjun dalam organisasi pergerakan dan percaturan politik. Dalam seminggu, Roehana menulis dua karangan. &#8220;Saya tulis dengan pena karena belum ada mesin tik. Kalaupun ada, saya tidak bisa menggunakannya,&#8221; ujar Roehana. </p>
<p>Sebelum dicetak, karangan tersebut diperiksa sang suami, Abdoel Kuddus. &#8220;Dia membetulkan atau menambah yang kira-kira kurang terasa,&#8221; tuturnya.<br />
Buah perjuangannya, pada 17 Agustus 1974, dua tahun setelah kematiannya, Roehana dinobatkan sebagai &#8216;Wartawati Pertama&#8217; oleh Pemda Sumatra Barat.<br />
Saat peringatan Hari Pers Nasional III pada 9 Februari 1987, Roehana dianugerahi penghargaan sebagai Perintis Pers Indonesia.</p>
<p>Fitriyanti, penulis biografi Roehana Kuddus, Wartawan Perempuan Pertama di Indonesia, menyimpan kesan tersendiri untuk Roehana. Dengan pemikiran-pemikiran yang jauh ke depan, &#8220;Dia adalah perempuan yang terlalu &#8216;maju&#8217; pada zamannya,&#8221; ujar Fitri.Terlebih, dia mempunyai kebiasaan membaca yang di luar kelaziman di masanya. &#8220;Kebiasaan itu pula yang membuatnya punya pemikiran maju dibandingkan anak perempuan seusianya,&#8221; papar Fitri. </p>
<p>Di sisi lain, Roehana tidak pernah lupa pada kodratnya sebagai seorang istri, ibu, dan perempuan. Lihatlah penampilan Roehana, sang wartawati itu. Tak ada penampilan tomboi khas perempuan yang bekerja di &#8216;dunia pria&#8217;.</p>
<p>Sehari-hari, Roehana adalah perempuan yang berpakaian khas Koto Gadang dengan baju kurung, songket, selendang, serta kain yang dililitnya sebagai tangkuluak tanduak di atas kepalanya. &#8220;Roehana tetap lincah. Bahkan, dia pernah meliput berita kasus pencurian di Bukttinggi,&#8221; ujar Fitri.Saat umurnya 24 tahun, dia menikah dengan lelaki bernama Abdoel Kuddus. Sejak itulah, Roehana menyandang nama Kuddus di belakang namanya. </p>
<p>Dia beruntung mendapatkan suami yang mendukung karier sang istri. Abdoel tidak pernah membatasi istrinya untuk melakukan apa yang dipercayainya.<br />
Abdoel juga mendampingi Roehana dalam menghadapi segala cobaan yang menerpa istri tercintanya itu. Hal ini membuat Roehana semakin mantap dalam memperjuangkan hak perempuan. Dia menjadi lebih berani karena sebelumnya dia benar-benar berjalan sendirian. Abdoel Kuddus sangat mencintai Roehana. Tidak seperti laki-laki pada zamannya yang kerap berpoligami, Abdoel kukuh beristrikan satu orang, yaitu Roehana.</p>
<p>Bagi keluarga, Roehana dikenang sebagai pribadi yang disiplin. Kedisiplinan tersebut tampak dari caranya menjaga kesehatan. &#8220;Dia sangat menjaga makanan yang disantapnya,&#8221; ujar cucu satu-satunya Roehana, Eddy Juni. Kedisiplinan tersebut juga tampak dari konsistensinya menjalankan ajaran agama. Roehana, lanjut Eddy, hafal Alquran. </p>
<p>Dia juga punya kebiasaan berzikir setelah shalat. Kebiasaan itu membawanya menjalin 500 biji tasbih yang didapatkannya dari pemberian teman-temannya. Biji tasbih tersebut disambungnya dalam satu rantai lalu digulungnya pada pergelangan tangan. &#8220;Sambungan yang sangat panjang itu akan dibukanya saat shalat,&#8221; tuturnya.  </p>
<p>Dia pun sangat rapi dalam berpakaian. &#8220;Saya ingat, dia akan merapikan rambutnya yang panjang lalu menggulungnya dengan rapi di atas kepalanya,&#8221; tuturnya. Apalagi, bila akan menemui para wartawan yang hendak mewawancarai dirinya. &#8220;Ini jugalah bukti penerapan nilai agama yang dilakukannya,&#8221; tutur Eddy.</p>
<p>Kepada sang cucu, Roehana juga mengajarkan nilai kejujuran dan toleransi. &#8220;Dia juga mengingatkan agar saya selalu berhati-hati dalam melangkah. Bisa saja ada orang yang dengki di sekitar kita,&#8221; katanya. </p>
<p>Saat umurnya 71 tahun, Roehana masih terus menulis. Apa saja dicatatnya. &#8220;Dia paling suka menyimak dan mencatat pidato sang adik, Sutan Syahrir, dan Soekarno yang didengarnya lewat radio,&#8221; tuturnya. </p>
<p>Roehana meninggal pada usia 88 tahun. Tepatnya saat rakyat Indonesia memperingati hari kemerdekaan RI ke-27 pada 17 Agustus 1972. Dia dimakamkan di TPU Karet, Jakarta. Setelah kematiannya itu, semakin banyak orang yang sadar akan kontribusinya terhadap kaum perempuan di Indonesia. Dia telah melakukan tindakan nyata tanpa harus berkoar-koar di mimbar.  &#8220;Saat ini perjuangan perempuan bukan lagi soal kesempatan, namun soal kemauan,&#8221; ujar Fitri. </p>
<p>Hanya bila ada kemauan, para perempuan bisa mengubah nasibnya. &#8220;Tidak dilecehkan dan diremehkan,&#8221; katanya. Layaknya seorang Roehana yang berjuang tanpa henti untuk mengubah nasib diri dan kaumnya. Perjuangan itu pula yang dianggap sejumlah orang layak mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan nasional.</p>
<p>Sayang, usaha tersebut tak membuahkan hasil. Pada 2008, Roehana hanya menerima bintang jasa, bukan gelar pahlawan nasional. Kendati begitu, keluarga menerimanya dengan lapang dada. &#8220;Kami yakin sejak memulai perjuangannya, bukan sebuah gelar pahlawan yang diinginkannya,&#8221; tutur Eddy. </p>
<p>Dia tahu betul, Roehana adalah pribadi rendah hati yang berjuang tanpa pamrih. Yang paling penting, lanjut Eddy, nilai-nilai yang pernah diajarkan oleh sang nenek bisa dipahami dan tetap dipegang teguh oleh para perempuan Indonesia saat ini. </p>
<p>Seperti pada petikan syairnya itu, seperti pesannya pula. &#8220;Saya berpesan agar kebebasan yang luas ini hendaknya diimbangi dengan agama yang teguh,&#8221; katanya. Baginya, kekayaan yang abadi adalah ilmu pengetahuan dan agama. ed: endah hapsari.</p>
<p>Fitria Andayani<br />
http://republika.co.id Minggu, 19 Desember 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakamarola.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakamarola.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakamarola.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakamarola.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakamarola.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakamarola.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakamarola.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakamarola.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakamarola.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakamarola.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakamarola.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakamarola.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakamarola.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakamarola.wordpress.com/315/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=315&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakamarola.wordpress.com/2010/12/19/roehana-kuddus-sang-wartawati-pelopor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b810c7dc99378ba54d59e5330e25a44d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">marola</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masjid di Moeara Laboeh</title>
		<link>http://pustakamarola.wordpress.com/2010/09/16/masjid-di-moeara-laboeh/</link>
		<comments>http://pustakamarola.wordpress.com/2010/09/16/masjid-di-moeara-laboeh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Sep 2010 11:16:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galery Photo JADUL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakamarola.wordpress.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Masjid di Muaralabuh tahun 1900 (Mesjid 60 kurang Aso) Sumber Photo : Koleksi TROPENMUSEUM &#8211; Belanda<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=364&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pustakamarola.files.wordpress.com/2011/02/moskee-te-moearalaboeh-1900.jpg"><img src="http://pustakamarola.files.wordpress.com/2011/02/moskee-te-moearalaboeh-1900.jpg?w=640&#038;h=450" alt="" title="Moskee te Moearalaboeh 1900" width="640" height="450" class="aligncenter size-full wp-image-365" /></a></p>
<p>Masjid di Muaralabuh tahun 1900 (Mesjid 60 kurang Aso)<br />
<em>Sumber Photo : Koleksi TROPENMUSEUM &#8211; Belanda</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakamarola.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakamarola.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakamarola.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakamarola.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakamarola.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakamarola.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakamarola.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakamarola.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakamarola.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakamarola.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakamarola.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakamarola.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakamarola.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakamarola.wordpress.com/364/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=364&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakamarola.wordpress.com/2010/09/16/masjid-di-moeara-laboeh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b810c7dc99378ba54d59e5330e25a44d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">marola</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pustakamarola.files.wordpress.com/2011/02/moskee-te-moearalaboeh-1900.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Moskee te Moearalaboeh 1900</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siti Roehana Koedoes (1884-1972): Ibu Pers, Pendidikan, dan Pelopor Emansipasi Perempuan Melayu</title>
		<link>http://pustakamarola.wordpress.com/2010/02/19/siti-roehana-koedoes-1884-1972-ibu-pers-pendidikan-dan-pelopor-emansipasi-perempuan-melayu/</link>
		<comments>http://pustakamarola.wordpress.com/2010/02/19/siti-roehana-koedoes-1884-1972-ibu-pers-pendidikan-dan-pelopor-emansipasi-perempuan-melayu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 11:21:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakamarola.wordpress.com/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Jika di Jawa tersebutlah nama Kartini sebagai pendekar wanita yang paling kondang, kaum perempuan di Sumatra juga punya idola yang tidak kalah harum namanya: Siti Roehana Koedoes. Kartini tidak sendiri lagi. Dari ranah Melayu, Roehana mengiringi perjuangan yang dirintis Kartini. Sejarah telah menggurat riwayat, Kartini melegenda berkat jasa baktinya memperjuangkan kaum perempuan, demikian pula [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=354&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Jika di Jawa tersebutlah nama Kartini sebagai pendekar wanita yang paling kondang, kaum perempuan di Sumatra juga punya idola yang tidak kalah harum namanya: Siti Roehana Koedoes. Kartini tidak sendiri lagi.<br />
Dari ranah Melayu, Roehana mengiringi perjuangan yang dirintis Kartini. Sejarah telah menggurat riwayat, Kartini melegenda berkat jasa baktinya memperjuangkan kaum perempuan, demikian pula Roehana.<br />
Kedua srikandi Indonesia itu menempuh jalan pendidikan demi mengentaskan perempuan dari pembodohan dan penindasan.</p>
<p>Sama yang dialami Kartini, cita-cita Roehana menemui jalan terjal karena desakan adat yang tak jarang menganggap rendah dalam memposisikan perempuan. Gugatan sentiasa merintangi misi Roehana, baik kecaman yang datang dari kalangan agamawan maupun pemuka masyarakat, terutama mereka yang berpikiran sempit dan anti kemajuan. “Tak ada pengorbanan suci yang sia-sia,” demikian Roehana meneguhkan hati. [1]<br />
<span id="more-354"></span><br />
Upaya Roehana demi mencerdaskan bangsa telah dirintis sejak belia. Pada usia yang masih sangat muda, Roehana sudah menjadi guru dengan menyediakan rumahnya sebagai sekolah dadakan bagi anak-anak perempuan.<br />
Pelajaran yang diberikan meliputi membaca, menulis, bahasa, budi-pekerti, agama, dan keterampilan menganyam. Roehana memacu semangat murid-muridnya untuk maju dengan meyakinkan bahwa perempuan bisa juga menjadi dokter atau guru. Roehana menganjurkan, dalam upaya mencari ilmu, perempuan lebih baik merantau seperti yang lazim dilakukan kaum lelaki Minang. Bagi kaum adat, gagasan ini jelas menyimpang. Tetapi nyali Roehana tak ciut. Baginya, emansipasi harus terus diperjuangkan demi kemajuan kaum perempuan.</p>
<p>Pada 1911, Roehana membuka sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di kota kelahirannya, Kotogadang, Sumatra Barat. KAS berkembang pesat dan menghasilkan barang-barang kerajinan berkualitas tinggi. KAS adalah sekolah perempuan pertama di Sumatra yang digagas langsung oleh perempuan. Roehana menjadi wanita Sumatra pertama yang dengan sadar memulai usaha memajukan kaum perempuan. Hebatnya, sekolah KAS yang dirintis Roehana masih bertahan hingga saat ini.</p>
<p>Selain sebagai pendidik, Roehana juga pantas disebut Ibu Pers Indonesia berkat perannya sebagai pelopor penerbitan koran perempuan pertama di Indonesia di mana perempuan mengambil peranan langsung dalam teknis penerbitannya. [2] Bisa jadi Roehana adalah wartawati pertama yang pernah ada di Nusantara. Rohana merupakan cikal bakal lahirnya wartawan-wartawan profesional di Sumatra Barat. Roehana tak hanya sekadar berperan sebagai “pemanis” dalam koran-koran yang dikelolanya. Lebih dari itu, dia memainkan lakon sentral sebagai pemimpin redaksi Soenting Melajoe, koran perempuan yang terbit di Padang sejak 10 Juli 1912, juga koran-koran bergenre emanisipasi wanita lainnya. Meskipun menjabat sebagai pemimpin redaksi, Roehana tak segan turun langsung ke bawah untuk meliput berita.</p>
<p>Roehana juga terlibat aktif dalam perintisan perhimpunan perempuan di Sumatra. Melihat tumbuh subur berdirinya organisasi perempuan di tanah Minang, Roehana lalu berinisiatif untuk mewadahinya dan menjadi motor pendeklarasian perhimpunan Sarikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS) sebagai wadah pemersatu berbagai organisasi perempuan Sumatra. SKIS resmi dibentuk di Padang pada 1911. Gebrakan Roehana ini sungguh menakjubkan. Pejuang perempuan sekaliber Kartini pun belum sempat mewujudkan ambisi ini. Lebih dari itu, Roehana mendirikan persatuan organisasi perempuan ini jauh sebelum Kongres Perempuan Indonesia digagas, yang kelak baru terlaksana pada 22-25 Desember 1928.</p>
<p><strong>Ibu Pendidikan Perempuan Minangkabau</strong></p>
<p>Siti Roehana lahir pada 20 Desember 1884, di Kotogadang, Sumatra Barat. [3] Roehana berasal dari keluarga terpandang, dari salah satu jalur matrilineal tertua di Kotogadang, yakni keturunan Datuk Dinagari dari Puak Kato. Ayah Roehana, Moehammad Rasjad Maharadja Soetan, bekerja sebagai seorang hoofdjaksa (jaksa kepala), jabatan yang termasuk berkelas pada masa itu. Ayah Roehana pernah mendapat penghargaan dari Kerajaan Belanda.</p>
<p>Darah keluarga Rasjad memang tergaris profesi jaksa. Datoek Dinagari, kakek buyut Roehana, adalah jaksa pertama di Bukitinggi sekurun 1833-1836. Paman Roehana, adik Rasjad, juga seorang jaksa, begitu pula saudara-saudara lelakinya yang lain. Roehana adalah anak pertama Rasjad dari Kiam, istri pertama Rasjad. Dari Kiam, Rasjad memperoleh enam anak. Setelah Kiam wafat, Rasjad menikah lagi hingga lima kali.<br />
Salah satu anak lelaki Rasjad adalah Soetan Sjahrir. [4] Dengan demikian, Sjahrir dan Roehana adalah saudara tiri lain ibu. Adik Rasjad, paman Roehana dan Sjahrir, adalah kakek dari Agus Salim, yang pada akhirnya nanti menjadi bapak bangsa Indonesia. Keluarga Roehana memang seolah-olah ditakdirkan sebagai agen untuk perubahan.</p>
<p>Semenjak kecil, Roehana sudah sering berpindah-pindah rumah, mengikuti tempat tugas ayahnya. Mulai dari Alahan Panjang, Padang Panjang, Simpang Tonang Talu (Pasaman), Jambi, kembali ke Padang Panjang, balik lagi ke Jambi, dan kemudian ke Medan. Ketika ibunya meninggal, Roehana kembali ke Kotogadang untuk mengasuh adik-adiknya.</p>
<p>Roehana sangat dekat dengan ayahnya. Julukan “Roehana anak ayah” pun disematkan kepadanya karena Roehana dianggap sebagai anak kesayangan. Rasjad memang berperan besar dalam proses pendewasaan Roehana dan berharap putri tercintanya itu akan tumbuh menjadi seorang perempuan yang berguna bagi keluarga dan bangsanya. Bakat revolusioner Roehana sudah terlihat sedari dini. Dia gemar membaca buku dan surat kabar, suka menulis, dan berlatih menyulam.</p>
<p>Berkat bimbingan sang ayah, Roehana dengan cepat menguasai ilmu-ilmu baru. Ayahnyalah yang mendidik Roehana dengan memberi surat kabar dan memesan buku, bahkan sampai dari Singapura, dengan aksara Latin, Arab, maupun Melayu, untuk dibaca Roehana. Roehana tidak pernah merasakan sekolah formal, karena harus hidup nomaden mengikuti sang ayah dan<br />
harus menjaga adik-adiknya. Jadilah Rasjad berperan sebagai ayah sekaligus guru bagi putri-putrinya, termasuk Roehana.</p>
<p>Ketika mengikuti ayahnya bertugas di Alahan Panjang, pengetahuan yang didapat Roehana bertambah lengkap. Keluarga Roehana bertetangga baik dengan seorang jaksa, Lebi Rajo nan Soetan, dan istrinya, Adiesah. Kebetulan keluarga kecil ini belum dikaruniai momongan. Keluarga Lebi Rajo kemudian berandil cukup besar dalam proses kreatif Roehana.<br />
Roehana kerap diajari membaca, menulis, serta merajut benang wol yang merupakan keahlian perempuan Belanda. [5] Bermacam surat kabar dan buku yang terdapat di rumah Adiesah dilahap Roehana. Sementara di rumahnya sendiri, Roehana juga membaca buku milik ayahnya seperti buku sastra, politik, atau hukum. Beginilah cara Roehana mengenyam<br />
pendidikan.</p>
<p>Proses pembelajaran yang menyenangkan di Alahan Panjang cuma dua tahun dirasakan Roehana. Rasjad dipindatugaskan ke Simpang Tonang Talu gara-gara sikapnya yang kritis terhadap atasan. Di tempat tugas ayahnya sekaligus tempat tinggal keluarganya yang baru inilah Roehana memulai jejaknya sebagai seorang guru muda. Ini bermula dari kebiasaan unik Roehana—yang bakal menjadi trade mark gaya Roehana kecil menarik murid—yakni membaca surat kabar ataupun buku dengan suara lantang di depan orang banyak di tempat umum maupun di teras rumahnya. Ditambah gaya baca Roehana yang memikat pendengar hingga mereka dibuat tertawa terpingkal. [6] Kiprah sang penyuluh segera dimulai.</p>
<p>Awalnya hanya dari kebiasaan Roehana membaca buku-buku dan koran dengan suara yang nyaring lagi lantang, namun siapa sangka kegemaran ini justru yang membuat lingkungan sekitarnya sadar bahwa Roehana sangat berbakat untuk menjadi guru. Mulanya tak puas mendengar, berangsur para tetangganya mulai tertarik belajar membaca dan menulis agar bisa membaca sendiri cerita yang diperdengarkan Roehana.</p>
<p>Ternyata umpan Roehana mujarab menjaring minat belajar orang kampung. Timbullah gagasan mendirikan sekolah di rumah, teras disulap menjadi tempat belajar sederhana, sedangkan ayah Roehana membantu pengadaan alat tulis yang dibagikan secara gratis. Cukup beralas tikar dan duduk bersila, pelajaran membaca dan menulis dimulai dengan Roehana sebagai guru. Ayah Roehana pun bersedia mengajar materi budi-pekerti dan agama.</p>
<p>Kegiatan belajar-mengajar yang berlangsung di rumah Roehana semakin riuh, dari anak-anak hingga para ibu muda terlibat proses pendidikan yang menggembirakan. Roehana mulai memperkaya materi pengajaran. Tak hanya membaca dan menulis saja, tapi juga pelajaran agama dengan menyertakan belajar membaca dan menulis Arab agar tidak sekadar menghafal, sebagaimana pelajaran agama di surau-surau. Nenek Roehana, Tuo Sarimin, turut andil dengan memberikan pelajaran keterampilan menyulam, sementara Tuo Sini, adik neneknya yang selain pintar mendongeng juga mengajar anyam-menganyam. [7]</p>
<p>Keteladanan seorang guru akan menjadikan guru sebagai pendidik yang<br />
mampu memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan semua dimensi<br />
kemanusiaannya. [8] Maka dari itu, Roehana mengasah pengetahuannya<br />
dengan lebih banyak membaca buku dan berlangganan surat kabar, termasuk media terbitan luar negeri. Dengan banyak menjamah bacaan asing, Roehana kian menyadari perbedaan nasib perempuan di dalam negeri dengan kondisi perempuan di luar negeri. Roehana mendapati tak hanya lelaki yang bisa menikmati pendidikan, tapi juga kaum perempuan.</p>
<p>Perempuan di negeri nun jauh di sana bisa memperoleh gelar sarjana, bekerja di kantor, menjadi guru, serta boleh menyatakan pendapatnya untuk turut menentukan masa depan bangsa. Kondisi kaum perempuan di dalam negeri sangat berbeda, masih dibatasi dengan aturan adat. Keadaan ini mengundang rasa prihatin dan memunculkan hasrat Roehana untuk memajukan kaum perempuan, yakni melalui jalur pendidikan dan pers.</p>
<p>Pengetahuan dari bacaan-bacaan luar negeri diterapkan Roehana saat mengajar dengan membeberkan nasib perempuan di Eropa yang jauh lebih baik. Sekali lagi, Roehana menegaskan perlunya perempuan Minang untuk merantau demi mencari ilmu. Bila perempuan tak berani membuka pikirannya, kata Roehana, maka dia akan tersingkir dari perhatian laki-laki karena pria Minang lebih menyukai perempuan yang pintar. Pikiran Roehana tentang perempuan merantau dianggap menyimpang dari adat karena berani memasukkan perempuan dalam lingkaran rantau yang mutlak dipunyai lelaki. Tapi begitulah ciri pelopor, pikirannya pasti melampaui orang kebanyakan pada zamannya.</p>
<p>Menjalani peran sebagai penyuluh kaum perempuan dilakoni Roehana cukup lama, sejak belia hingga Roehana berusia 24 tahun. Selama kurun waktu itu, Roehana telah melakukan banyak gebrakan untuk mendidik kaum perempuan. Jasa terbesar Roehana tentu saja ketika mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Kotogadang pada 1911. Sekolah yang mendidik keahlian anak-anak perempuan ini merupakan tindak lanjut dari dideklarasikannya perkumpulan perempuan Kerajinan Amai Setia pada 11 Februari 1911 di mana Roehana ditunjuk sebagai ketuanya. Di bawah tangan halus Roehana, KAS berkembang pesat. Para istri pejabat Belanda tertarik dengan hasil kerajinan siswi-siswi KAS yang kualitasnya telah layak ekspor.</p>
<p>Kegemilangan yang ditoreh Roehana tersiar ke berbagai penjuru. Hingga datang undangan bagi Roehana untuk ke Eropa untuk ikut dalam Internationale Tentoonstelling yang akan dihelat di Brussel, Belgia, pada 1913. Internationale Tentoonstelling adalah ajang pameran kerajinan tahunan yang diikuti oleh peserta dari banyak negara. Ini adalah kesempatan emas Roehana untuk memamerkan sulam terawang karya perempuan Kotogadang sehingga akan dikenal lebih luas. Namun, gara-gara fitnah dari pihak-pihak yang dengki, Roehana batal ke Eropa, padahal kabar rencana keberangkatan Roehana telah disiarkan luas. [9]</p>
<p><strong>Wartawati Indonesia Pertama</strong></p>
<p>Gagal ke Eropa, spirit Roehana tak surut. Justru aksi jegal yang dialaminya dijadikan pelecut untuk semakin maju. Roehana bertekad untuk terus membimbing bangsanya menuju pencerahan. Kali ini pena jadi pilihan senjatanya. Kegemarannya membaca membuatnya terpantik untuk turut menulis. Ini suatu keputusan berani mengingat kala itu tak banyak perempuan yang berkecimpung di semesta media. Roehana adalah salah seorang srikandi pertama yang memulai tradisi pers di Sumatra Barat, pelopor jurnalisme perempuan Minangkabau.</p>
<p>Semasa menjadi guru, Roehana mengajari para muridnya menulis maupun menyadur cerita dalam bentuk syair yang memuat kearifan. Selain itu, Roehana mempunyai kebiasaan menulis catatan harian atau semacam memoar yang berisi keluh-kesah, juga apapun yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Kegemaran membaca dan menulis inilah yang kemudian membuatnya berani mencoba mengirimkan hasil pemikirannya ke beberapa surat kabar.</p>
<p>Ketika Poetri Hindia [10] terbit perdana pada 1908 di Batavia dan lantas dianggap sebagai koran perempuan pertama di Indonesia, Roehana ikut antusias menyambut kemajuan ini. Beberapa kali dia menjadi kontributor koran perempuan yang hadir berkat gagasan Tirto Adhi Soerjo [11] itu. Bisa jadi Roehana adalah wanita Indonesia yang secara sadar memerankan dirinya sebagai seorang jurnalis, yang bersedia meliput berita sekaligus menulis untuk kemudian dikirimkan ke media massa. Kebanyakan, para perempuan yang terlibat di dunia jurnalistik kala itu cuma sebatas sebagai “pemanis” semata, tanpa perlu susah-susah bersadar diri dalam melakoni tugas-tugas jurnalistik.</p>
<p>Setelah Poetri Hindia tutup buku karena Tirto Adhi Soerjo terlibat beberapa perkara delik pers dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, Roehana kemudian berpaling pada Oetoesan Melajoe yang sudah terbit sejak 1911. [12] Roehana mengirim surat kepada Datoek Soetan Maharadja alias DSM, pemilik Oetoesan Melajoe sekaligus tokoh pers terkemuka di Sumatra Barat.</p>
<p>Gayung bersambut, DSM ternyata sama kepincutnya terhadap Roehana, DSM mengikuti dengan cermat segala sepak-terjang Roehana, baik lewat gerakan-gerakan Roehana di bidang pendidikan dan emansipasi perempuan ataupun ketajaman kalam Roehana yang dimuat di sejumlah surat kabar.<br />
Saking tertariknya, orang sepenting dan sesibuk DSM sampai rela datang ke Kotogadang demi langsung menemui Roehana.</p>
<p>Hati Roehana terang girang bukan kepalang, dia segera menyampaikan keinginannya kepada DSM yang dijuluki raja pers Minangkabau itu. Roehana tidak main-main dalam hal ini, bahkan dia dengan tegas menyatakan ingin menerbitkan surat kabar khusus perempuan. “Keinginanku sebenarnya bukanlah sekadar meminta ruangan kaum ibu dalam surat kabar Oetoesan Melajoe yang bapak pimpin, tetapi kalau boleh ya penerbitan surat kabar yang istimewa untuk perempuan,” pinta Roehana. Setelah berembug, mereka kemudian bersepakat untuk menerbitkan koran khusus perempuan yang hingga saat itu belum pernah ada di Sumatra. [13]</p>
<p>Tanpa lebih banyak basa-basi, meluncurlah edisi perdana Soenting Melajoe pada 10 Juli 1912. Roehana dipercaya untuk mengendalikan surat kabar ini sebagai pemimpin redaksinya. Inilah perempuan Indonesia pertama yang secara langsung memimpin surat kabar dan secara teknis sangat terlibat dalam tiap-tiap terbitannya. Bersama Roehana, duduk pula nama-nama srikandi lain di jajaran keredaksian Soenting Melajoe, seperti Zoebaedah Ratna Joewita binti Datoek Soetan Maharadja yang berkedudukan di Padang serta Roehana binti Maharadja Soetan yang mengasuh biro Soenting Melajoe di Bukitinggi. Ratna Joewita, anak perempuan DSM, sudah cukup kenyang pengalaman karena pernah menjadi penulis di Poetri Hindia, sama seperti yang pernah dilakoni Roehana.</p>
<p>DSM sendiri adalah sosok kontroversial. Pada 1911 itu, DSM, jurnalis kawakan Melayu sekaligus pemuka adat, terlibat perselisihan dengan kaum ulama pembaharu. DSM menggunakan Oetoesan Melajoe untuk melawan jurnal Al-Moenir milik golongan Islam modernis. Al-Moenir mengkritik tentang semua yang dianggap tabu kaum adat, dan sebaliknya, DSM tak henti-hentinya menyerang musuhnya dengan menyebut mereka sebagai kaum paderi. [14]</p>
<p>Kendati bertipikal keras, DSM ternyata peduli emansipasi perempuan. Pada 1908, DSM memprakarsai Pekan Raya Melayu di mana diperkenalkan sekolah penenun pertama untuk perempuan, Padangsche Weefschool. Selanjutnya pada 1912, DSM berkampanye untuk meningkatkan status kaum hawa melalui perluasan kesadaran dan pendidikan. Realisasi dari upaya itu, DSM sekali lagi membangun sekolah-sekolah tenun di beberapa tempat di Sumatra Barat. Kepedulian DSM terhadap kemajuan perempuan inilah yang menjadikan Roehana sangat respek kendati DSM adalah juga seorang tokoh adat yang cukup konservatif.</p>
<p>Perbedaan Soenting Melajoe dengan Poetri Hindia cukup jelas. Kendati Poetri Hindia merupakan koran perempuan pertama di Indonesia tetapi secara teknis jalan redaksinya ini justru dikendalikan langsung oleh Tirto Adhi Soerjo. [15] Untuk mengesankan sebagai koran khusus perempuan, sederet nama wanita terpandang dipasang di jajaran keredaksian Poetri Hindia. Namun tulisan Tirto Adhi Soerjo, selaku pemilik Poetri Hindia, masih sangat sering muncul di koran perempuan ini.</p>
<p>Sedangkan Soenting Melajoe berbeda. Meski DSM menjadi salah seorang penggagasnya, DSM tidak ikut campur dalam teknis keredaksian. DSM menyerahkan seluruh penggarapan Soenting Melajoe kepada Roehana sebagai pemimpin redaksinya. Inilah yang menjadi puncak pencitraan Roehana sebagai perempuan Indonesia pertama yang berprofesi sebagai wartawan. Awalnya, kerja Roehana hanya memetakan pemikirannya sembari merilis berita dan tulisan dari koran-koran luar negeri untuk ditampilkan di Soenting Melajoe. Namun kemudian Roehana benar-benar menjalani tugasnya sebagai wartawan. Roehana tak jarang bolak-balik Kotogadang-Bukitinggi untuk meliput peristiwa-peristiwa yang terjadi.</p>
<p>Roehana menemukan alasan kuat mengapa tertarik terjun ke dunia jurnalistik. Pertama, perasaaan bangga karena dengan menjadi wartawan dapat bertemu dengan para tokoh besar. Kedua, kerja-kerja menulis seorang wartawan adalah ruang untuk memerdekakan pikiran, bahkan bisa untuk mengkritik atau mengkoreksi hal-hal yang dirasa tidak benar dan dianggap perlu diketahui oleh khalayak. Ketiga, kewajiban seorang wartawan untuk mengemban amanat rakyat terlebih lagi amanat rakyat yang hakiki berupa kemerdekaan hati nurani rakyat. Terakhir, dengan menjadi seorang wartawan, Roehana leluasa memperjuangkan nasib perempuan supaya tidak terus ditindas oleh aturan adat serta perlakuan diskriminatif. Roehana berkehendak memenangkan perjuangan perempuan, dan itulah yang dilakukannya melalui Soenting Melajoe.</p>
<p><strong>Penghargaan sebagai Wartawati Pertama</strong>.</p>
<p>Dominasi sajian Soenting Melajoe menekankan pentingnya perempuan menempuh pendidikan, baik pendidikan formal, pendidikan keluarga, juga pendidikan untuk bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada lelaki. Tulisan-tulisan Roehana cukup tajam, bahkan berulangkali menyerang adat Minangkabau yang dinilainya telah usang, tak relevan lagi dengan kemajuan zaman. “Saya terutama sekali menulis mengenai segi keagamaan dan keharusan adat Minangkabau, khususnya Kotogadang, yang mengubah sikap mereka mengenai perempuan,” tegas Roehana. [16] Tulisannya banyak bercerita ihwal kehidupan perempuan dari lapisan menengah ke bawah. Roehana sangat paham tentang keadaan ini karena dalam lingkungan inilah dia menjalani kehidupan.</p>
<p>Roehana juga kerap menyoroti nasib perempuan di negara miskin dan negara terjajah. Dalam artikel berjudul “Perempoean” yang dimuat di Soenting Melajoe edisi 13 Desember 1918, Roehana menggugat nasib kaum perempuan India yang merana akibat terkekang aturan adat. Keadaan kaum perempuan India memang sangat mengenaskan, bahkan diperlakukan tidak manusiawi. Ketika sedang menstruasi, mereka diasingkan karena dianggap sebagai makhluk yang kotor lagi najis. Inilah yang digugat Roehana bahwa perempuan selalu saja menjadi tumbal atas nama norma adat. Berikut sedikit nukilan tulisan Roehana itu:</p>
<p>Perempuan bangsa Hindu di tanah Hindustan sebelah utara dan Hindustan sebelah tengah amatlah rendah sekali  derajatnya dan tiada berhak apa-apa. Perempuan Hindu itu waktu di masa berkain kotor sekali sebulan. Jangankan berhak tidur dalam bilik, sedangkan akan tidur dalam rumah saja, di luar bilik pun tiada boleh, melainkan harus tinggal di beranda-beranda rumah saja atau di dapur dengan tidak boleh masuk ke dalam rumah, sebab dia berkain kotor itu dipandang  bernajis badannya, tidak boleh masuk rumah. [17]</p>
<p>Gugatan Roehana kian bernyali, kali ini tulisan galaknya ditujukan terhadap kaum pria yang selama ini hanya menjadikan perempuan berada di bawah kuasa mereka. Roehana menginginkan keadilan. Dia tidak mau kaumnya hanya diperlakukan sekadar sebagai pelengkap, pemuas nafsu yang kebetulan memiliki fungsi reproduksi. Roehana memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan, karena menurut Roehana, perempuan bersama laki-laki adalah unsur pembangun bangsa. Dalam artikelnya yang bertajuk “Mentjari Isteri”, Roehana menulis untuk kaum keturunan Adam:</p>
<p>Wahai, tuan-tuan! Ketahuilah oleh tuan-tuan, bahwa perempuan itu sunting permainan. Janganlah tuan pilih perempuan (sama gadis atau janda) yang panjang rambut dan licin kening saja, tetapi wajiblah tuan-tuan ingat buah yang manis itu banyak berulat. Biarlah kita mendapat lembayang buruk kulit sebab daripada rupawan. Wajib pula kita ketahui dan cari perempoean yang setiawan, gunawan nantilah hartawan, bangsawan dan tempawan. Menurut pikiranku yang bodoh ini, di antara jang banyak itu lebih baik benar kita mendapat istri setiawan dan gunawan. [18]</p>
<p>Aksi berani Roehana ternyata menuai kecam dari kubu seberang. Suatu ketika, Roehana mendapat kiriman surat kaleng berisi cacian. “Perempuan tak perlu banyak ulah, kenapa harus mencari perkara dengan pemikiran dan kegiatan yang tak penting?! Bukankah selama ini perempuan tak lebih hanya seorang ibu rumah tangga belaka?! Sekarang mau bersaing pula dengan laki-laki. Ada-ada saja!” begitu bunyi surat galak bernada bias gender tersebut.</p>
<p>Surat makian kepada Roehana itu sebenarnya merupakan reaksi atas tulisan keras Roehana tanggal 29 September 1924, yang berjudul “Giliran Zaman” di mana dia mempertanyakan daya juang pergerakan yang mulai lembek. “Sesungguhnya jika dipikir sepintas lalu, hendaklah orang menaruh pengertian tentang putih-merahnya, lunak kerasnya jalan sikap pergerakan rakyat pada suatu negeri. Ukuran merk stempelnya adalah tergantung pada keadaan papan nasib penduduknya di tempat atau di negeri di mana timbul itu pergerakan jua adanya,” [19] kritik Roehana. Artikel inilah yang kemudian memantik reaksi kurang terima dari beberapa kalangan, bahkan dari aktor-aktor pergerakan itu sendiri.</p>
<p>Roehana tak takut, justru hasratnya terpacu, hasrat seorang perempuan yang tak boleh bertingkah macam-macam, perempuan yang dilarang menyaingi kaum lelaki. Surat itu datang gara-gara sepak-terjang emansipasi Roehana, juga aksi beraninya menggugat pemerintah kolonial. Roehana mulai melakukan agitasi terhadap kaumnya untuk turut andil dalam perjuangang pergerakan nasional, bahkan berpolitik sebagai senjata melawan kaum penjajah.</p>
<p>Meski cenderung keras dalam urusan emansipasi perempuan, namun Roehana tak serta-merta jadi gelap mata. Roehana masih memegang teguh kodrat asali perempuan, yakni sebagai ujung tombak dalam mengurus rumah tangga dan keluarga. Untuk itu, Roehana selalu menghimbau agar kaum perempuan tak jemu menimba ilmu supaya kaum perempuan menjadi golongan yang tangguh, pandai mengelola keluarga tanpa selalu menggantungkan diri terhadap suami. Roehana menganjurkan:</p>
<p>Rajin-rajinlah dan tetaplah hati saudara-saudara setiap hari menuntut ilmu, karena ilmu itu telah bersendi kemajuan bagi pihak beberapa bangsa. Sungguh pada masa ini sudah nyata abad ke 20 dan zaman kemajuan. Mulai laki-laki dan perempuan, sama akan dimajukan. Sebab kemajuan itu tak hanya pendapat pada pihak laki-laki saja. Pihak perempuan berkemajuan juga, bangsaku perempuan hendaknya juga dimajukan, jangan sekali ditinggalkan di belakang. Kepandaian itu amat berguna bagi saudara kami laki-laki juga perempuan. Sekali lagi, anak perempuan harus terus disekolahkan! [20]</p>
<p>Selain mengupas ihwal perempuan, Soenting Melajoe juga mengangkat peristiwa politik maupun kriminal yang terjadi di tanah Melayu, juga yang terjadi di dunia internasional. [21] Keunikan Soenting Melajoe adalah kala terbitnya yang tak lazim: saban 9 hari. Dengan harga perbulan sebesar f 0,25 untuk Hindia Belanda dan f 0,40 untuk luar negeri, koran yang diterbitkan penerbit Snelpersdrukkerij ini mampu menjadi penempa wanita Minangkabau dengan sapaan manisnya.</p>
<p>Soenting Melajoe diterbitkan dari Padang namun Roehana tak perlu berpindah domisili. Dari Kotogadang, Roehana tetap bisa mengendalikan redaksi Soenting Melajoe, yakni cukup dengan mengirim tulisan selama sepekan dan berkoordinasi dengan awak redaksi di Padang. Roehana menulis dengan tulisan tangan karena dia merasa masih nyaman dengan gaya  konvensional ini, selain tidak memiliki dan belum mahir menggunakan mesin ketik. Kecuali aktif dan produktif dalam menulis,<br />
Roehana turun langsung mencari bakat terpendam para perempuan yang gemar menulis ke pelosok-pelosok, serta mengusahakan dibukanya biro-biro Soenting Melajoe di berbagai tempat untuk memudahkan distribusinya.</p>
<p>Untuk menarik koresponden berpartisipasi, Roehana memuat kolom khusus berisi ajakan agar kaum perempuan bersedia menyumbang tulisan. Dalam kolom tersebut ditulis, bahwa tulisan yang dikirim tak harus artikel panjang lagi serius, syair pun diterima dengan senang. “Betapalah senang hati hamba, kalau saudara sepertinya sua, sama-sama turut menggoyangkan pena selalu menampakkan diri di medan ini. Memimpin teruskan sepanjang maksud daya yang nyata ada haluan amat bagus sekali,” demikian ajakan yang terpampang di Soenting Melajoe. [22] Berkat militansi Roehana yang tak kenal letih, peredaran Soenting Melajoe tak hanya di ranah Minang saja, tetapi juga hingga ke seluruh Sumatra, bahkan sampai ke Jawa. Soenting Melajoe, misalnya, memiliki kontributor dari Batavia dan Semarang.</p>
<p>Berkat peran vitalnya dalam menggalang keberlangsungan Soenting Melajoe, nama Roehana melambung ke panggung pers nasional dengan fokus pemberitaan tentang perempuan. Sebagai pedagog sekaligus jurnalis, nama Roehana kemudian dikenang-kenang sebagai jurnalis pertama perempuan Pribumi karena dia juga terlibat langsung dalam membangun manajemen pers di dekade kedua abad ke-20 itu. “Soerat Kabar Perempuan di Alam Minangkabau”, demikian jargon yang diusung Soenting Melajoe. Jargon ini senafas dengan perjuangan Soenting Melajoe mengangkat harkat perempuan, utamanya adalah bagaimana mendudukan posisi yang sejajar dengan kaum laki-laki di dalam dunia pergerakan.</p>
<p>Tak jemu-jemu Roehana menuntut agar hak-hak kaum Hawa tidak terlalu ditekan. Roehana berjuang sekuat tenaga melalui bidang yang dikuasainya: pendidikan dan pers. Melalui media surat kabar, pergerakan Roehana lebih leluasa dalam melancarkan kritikan dan sentilan pedas kepada pihak-pihak yang tak ingin kaum perempuan memperoleh kemajuan. Sebagai ransum untuk memperkaya wawasannya sebagai seorang guru sekaligus jurnalis, Roehana terus membekali dirinya dengan membaca surat kabar pergerakan, seperti Fadjar Asia, Modjopahit, Goentoer Bergerak, juga Sinar Djawa/Sinar Hindia. Koran-koran ini kebanyakan adalah corong pergerakan yang dimotori para pejuang generasi muda yang berdarah-darah menentang penjajahan. [23]</p>
<p>Selain bersama Soenting Melajoe, Roehana juga terlibat dalam beberapa koran lainnya. Pada 1913, di samping pekerjaaan utamanya sebagai pemimpin redaksi Soenting Melajoe, Roehana juga menjadi awak Saoedara Hindia, yang diterbitkan di Kotogadang, tempat Roehana bermukim. Selanjutnya, pada 1920, saat Roehana menetap di Medan sembari mengajar pada sekolah Dharma Putra, dia membantu penerbitan surat kabar Perempoean Bergerak. [24]</p>
<p>Perempoean Bergerak, koran terbitan Deli, juga mengusung semangat feminisme kendati tetap memuat sajian rumah tangga, sopan-santun, keluarga, penjagaan anak, pergaulan sehari-hari, dan masak memasak.<br />
Segmen pembacanya pun juga ditujukan bagi laki-laki. Argumentasinya, kemajuan perempuan dan bangsa hanya akan tercapai dengan kerjasama antara laki-laki dan perempuan. Perempoean Bergerak dipelopori para aktivis perempuan ternama kala itu, antara lain Boetet Satidjah, Anong S Hamidah, Siti Sahara, Ch Baridjah, TA Safariah, dan Siti Satiaman.<br />
Nama terakhir yang disebut adalah pemimpin redaksi sekaligus istri dari jurnalis terkemuka, Parada Harahap. [25] Roehana sempat pula menjadi redaktur surat kabar Radio dan Tjahaja Sumatra yang diterbitkan di Padang. Namun, meski sudah kenyang berbagai pengalaman di dunia pers, Soenting Melajoe tetap saja menjadi ciri yang paling lekat pada diri Roehana sebagai seorang jurnalis.</p>
<p>Roehana setia mengawal Soenting Melajoe dari awal hingga pungkas. Sejak Soenting Melajoe pertama kali diluncurkan sampai koran ini berhenti terbit pada 1921, posisi Roehana sebagai motor utama penggeraknya tak tergantikan. Sembilan warsa yang dilakoni Roehana bersama Soenting Melajoe bukanlah waktu yang sebentar, tak banyak koran yang bisa bertahan selama itu dalam kurun dekade kedua abad ke-20 tersebut. Berkat kegigihan dan komitmen Roehana demi kemajuan kaum perempuan, Soenting Melajoe mampu melangsungkan perjuangannya selama sembilan tahun itu.</p>
<p><strong>Usia Panjang Sang Pejuang</strong></p>
<p>Dia sejatinya bernama asli Siti Roehana. Nama tambahan Koedoes didapatnya setelah menikah dengan Abdoel Koedoes Gelar Pamoentjak Soeltan pada 1908. Sang suami masih terhitung keponakan ayah Roehana.<br />
Abdoel Koedoes adalah lelaki terpelajar, wartawan, sekaligus aktivis pergerakan. Betapa senangnya hati Roehana mendapat pasangan hidup yang seiring sejalan dan sangat mendukung aktivitasnya. Abdoel Koedoes adalah anggota Insulinde, organisasi pengganti Indische Partij (IP). [26]</p>
<p>Abdoel Koedoes juga seorang jurnalis surat kabar Tjahaja Soematra selain sering menulis untuk koran-koran lain. Keahlian jurnalisme sang suami inilah yang kelak akan membuat Roehana semakin gandrung menulis dan berjuang lewat medan pers. Ideologi perjuangan Abdoel Koedoes juga sangat mempengaruhi pendewasaan karakter seorang Roehana, terutama dalam hal sikap politiknya terhadap kesewenang-wenangan kaum penjajah.<br />
Abdoel Koddoes sendiri memiliki pribadi yang berani dan tegas. Kendati dia memperoleh pendidikan hukum, suami Roehana itu lebih memilih menjadi notaris partikelir karena tak sudi mengabdi untuk pemerintah kolonial.</p>
<p>Roehana menyadari posisi pemerintah kolonial selaku penjajah kendati dia banyak berkawan dengan orang-orang Belanda sejauh itu memberi manfaat posisitf bagi pergerakannya. Bersama suaminya, Roehana semakin tajam dalam menilai setiap ketidakadilan yang dilakukan antek-antek kolonial, sehingga tanpa tedeng aling-aling Roehana memberanikan diri bergerak melawan lewat tulisan, pendidikan, maupun pergerakan organisasi. Menepis anggapan bahwa selama ini Kotogadang cenderung pro terhadap Belanda, Roehana menampik dengan menjelaskan bahwa orang Kotogadang hanya sekadar belajar mencuri kunci bagaimana mengadakan perubahan, termasuk lewat pendidikan. Setelah tercapai maksud, orang Kotogadang bukan menggadai harga diri tapi merebut kebebasan.</p>
<p>Roehana dan suami ternyata cukup cocok dengan Soetan Sjahrir yang tak lain adalah adik tiri Roehana. Mereka bertiga memiliki jiwa yang sama, melawan dan tidak takut menentang pemerintah kolonial. Menurut keyakinan ketiganya, perantauan dari ranah Minang merupakan unsur paling dinamis di antara manusia Indonesia baru, utamanya di Medan tempat mereka menetap kala itu. Medan di waktu itu sama riuh dan berkembangnya dengan Batavia, Surabaya, dan Semarang, alias masuk jajaran empat kota besar di Hindia Belanda. Medan menjadi wilayah yang paling tersentuh nuansa modern di antara daerah-daerah lain di Sumatra.</p>
<p>Pasangan Siti Roehana dan Abdoel Koedoes dikarunia anak lelaki semata wayang yang diberi nama Djasman. Ketika beranjak dewasa, Djasman mengikuti jejak sang ibu dengan mengabdikan diri sebagai guru. Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, usia Roehana sudah menginjak 61 tahun. Saat Belanda datang lagi dan melancarkan agresi militer pasca proklamasi kemerdekaan RI, Roehana turut membantu dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Roehana juga ikut mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan yang sedang berjuang mempertahankan Republik. Roehana juga mencetuskan ide untuk menyusupkan senjata dari Kotogadang ke Bukitinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.</p>
<p>Ketika Indonesia menerima pengakuan kedaulatan pada 1949, Roehana kembali ke Kotogadang karena sang suami, Abdoel Koedoes, mulai sakit-sakitan, hingga akhirnya wafat. Sepeninggal suaminya, Roehana kembali ke Medan, tinggal bersama Djasman. Umurnya yang sudah renta tak memungkinkan lagi untuk terus mengajar dan menulis surat kabar. Di masa senjanya, Roehana masih sempat menghabiskan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat. Membaca dan menjahit, serta mencatat diari adalah aktivitas keseharian Roehana.</p>
<p>Nenek pemberani ini sempat tinggal di Jakarta. Pada 1958, Djasman ditugaskan ke London, Inggris, selama 2 tahun. Tak mungkin bagi Roehana untuk ikut. Karena itu, dia memutuskan menetap di Jakarta, bersama keponakannya, sembari menunggu kepulangan Djasman. Ketika sang putra tercinta kembali ke tanah air, Roehana terus tinggal bersama Djasman kendati beberapa kali berpindah kota mengikuti daerah tugas.<br />
Djasman sempat ditugaskan ke Surabaya selama 2 tahun sebelum ke Jakarta lagi.</p>
<p>Pada 17 Agustus 1972, tepat ketika seluruh rakyat Republik Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-27, Siti Roehana Koedoes meninggal dunia di Jakarta pada usia 88 tahun. Jenasahnya dimakamkan di pemakaman umum Karet, Jakarta. Tak banyak perempuan Indonesia seperti Roehana, apalagi pada masa hidupnya yang sarat ketidakadilan yang dialami kaum perempuan. Siti Roehana Koedoes, seorang perempuan yang tak pernah mengecap pendidikan formal tapi sanggup melakukan hal-hal besar demi perubahan: mendirikan sekolah perempuan, membentuk organisasi perempuan, serta menerbitkan surat kabar perempuan. Bukan kebetulan, di ranah Sumatra, Roehana adalah sang pemulanya. [27]</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Roehana Koedoes memegang peran yang cukup sentral dalam lalu lintas riwayat pergerakan perempuan di Minangkabau khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Roehana merupakan perempuan Minangkabau yang mencoba menaburkan benih pembebasan perempuan dari teologi bias gender.<br />
Pergerakan-pergerakan pemberdayaan perempuan yang dilakukan Roehana adalah simbol manifestasi perjuangan kaum perempuan dari adat dan realita yang tidak seimbang memandang perempuan itu sendiri. [28]</p>
<p>Roehana mempunyai komitmen yang kuat pada pendidikan terutama untuk kaum perempuan. Pada zamannya, Roehana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan, adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Roehana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan. [29]</p>
<p><strong>Roehana Koedoes, Pejuang Perempuan Melayu</strong>.</p>
<p>Dalam upaya mengubah paradigma masyarakat Minangkabau terhadap pendidikan bagi perempuan, Roehana tidak kenal lelah berikhtiar. Dengan bijak, Roehana mengakui bahwa perputaran zaman tak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Akan tetapi, yang mesti dilakukan adalah bahwa perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Emansipasi yang ditawarkan Roehana tidak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. [30] Perempuan juga butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan, untuk itulah diperlukannya pendidikan bagi kaum perempuan.</p>
<p>Perjuangan Roehana untuk memajukan kaum perempuan dilakukan dengan mendirikan sekolah dan menerbitkan suratkabar khusus perempuan. Selain menjadi seorang pendidik, Roehana adalah perempuan Indonesia pertama yang dengan sadar menjalani rutinitias kesehariannya sebagai seorang jurnalis, dengan kata lain, Roehana adalah wartawati pertama di Indonesia. Sebagai bentuk pengabadian atas jasa-jasanya, pada 1974 pemerintah daerah Sumatra Barat memberi penghargaan kepada Roehana sebagai wartawati pertama Indonesia. Pemerintah pusat Orde Baru tidak mau kalah, pada peringatan Hari Pers Nasional ke III, 9 Februari 1987, Roehana dianugerahi gelar sebagai perintis pers Indonesia.</p>
<p>Selanjutnya, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut menggenapkan gemilang jasa yang ditorehkan Roehana dengan menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Roehana atas jasa-jasanya dalam perjuangan bangsa melalui dunia jurnalistik. Penghargaan yang diberikan pada 16 Februari 2008 itu diserahkan melalui Gubernur Sumatra Barat, Gamawan Fauzi, dan diterima keluarga Roehana Koedoes yang diwakili cucunya, Juneydi Juni, pada acara puncak Hari Pers Nasional tingkat Sumatra Barat di Istana Negara Bung Hatta, Bukittinggi. [31]</p>
<p>Kepustakaan :<br />
- AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007,<br />
- Fitriyanti, Roehana Koeddoes:Perempuan Sumatera Barat, Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2001.<br />
- Iswara N Raditya dan Muhidin M Dahlan (Eds.), Karya-karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo: Pers Pergerakan dan Kebangsaan, Jakarta: IBOEKOE, 2008.<br />
- M Balfas, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo: Demokrat Sedjati, Jakarta: Djambatan, 1952.<br />
- Muhammad Safrinal (Ed.), Sang Guru: Peta Ringkas Hubungan Guru-Murid di Pelbagai Tradisi, Yogyakarta: Ekspresibuku, 2006<br />
- Muhidin M Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: IBOEKOE, 2008.<br />
- Petrik Matanasi (Ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008<br />
- Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemula, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003.<br />
- Rudolf Mrazek, Sjahrir:Politik dan Pengasingan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1996.<br />
- Tamar Djaja, Roehana Koddoes, Srikandi Indonesia, Jakarta: Penerbit Mutiara, 1980.</p>
<p>Artikel dalam Buku<br />
- Dian Andika Winda, “Perempoean Bergerak: Dari Deli untuk Kesetaraan, “dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: IBOEKOE, 2008, hlm. 148.<br />
- Hajar NS, “Siti Roehana Koedoes: Ibu Pers dan Pergerakan Indonesia”, dalam Petrik Matanasi (Ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008, hlm. 186.<br />
- Hajar NS, “Siti Roehana Koedoes: Membaca Surat kabar Seperti Meminum Air Laut”, dalam dalam AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007, hlm. 38.<br />
- Iswara N Raditya, “Datoek Soetan Maharadja: Penghulu Adat Berkiblat Barat”, dalam AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007, hlm. 24.<br />
- M Yuanda Zara, “Oetoesan Melajoe: Koran Utusan Kaum Adat”, dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: IBOEKOE, 2008, hlm. 73.<br />
- Reni Nuryanti, “Soenting Melajoe: Di sini, Nama Roehana Koedoes Terpahat”, dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: IBOEKOE, 2008, hlm. 91<br />
- Rhoma Dwi Aria Yuliantri, “Parada Harahap: King of The Java Press”, dalam AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007, hlm. 88.<br />
- St Kartono, “Masih Ada Guru”, dalam Muhammad Safrinal (Ed.), Sang Guru: Peta Ringkas Hubungan Guru-Murid di Pelbagai Tradisi, Yogyakarta: Ekspresibuku, 2006, hlm. 20.<br />
- Artikel dalam Suratkabar dan Internet</p>
<p>&#8212;&#8212;-, “Roehana Kudus”, tersedia di<br />
www.wikipedia.org.<br />
diakses pada<br />
6 April 2009.</p>
<p>&#8212;&#8212;-, “Balai Wartawan &#8220;Rohana Kudus&#8221; Bukti Sejarah,” tersedia di<br />
www.opensubscriber.<br />
com, diakses pada 7 April 2009.</p>
<p>Nasrul Azwar (2007), “Roehana Kudus, Jurnalis Perempuan Dari Sumatra Barat” tersedia di www.ranah-minang.com, diakses pada 6 April 2009.</p>
<p>Riny Yunita (2008), “Roehana Kudus Rintis Suratkabar Perempuan”, tersedia di www.langitperempuan.com, diakses pada 6 April 2009.</p>
<p>Siti Roehana Koedoes (1918), “Perempoean”, dalam Soenting Melajoe, 13 Desember 1918.</p>
<p>Siti Roehana Koedoes (1920), “Mentjari Isteri”, dalam Soenting Melajoe, 10 Desember 1920.<br />
_______________________________<br />
Iswara N. Raditya adalah peneliti di Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) dan Redaktur Sejarah www.melayuonline.com, tinggal di Yogyakarta.<br />
Sumber Foto: Petrik Matanasi (Ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: IBOEKOE, 2008.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>[1] Reni Nuryanti, “Soenting Melajoe: Di sini, Nama Roehana Koedoes Terpahat”, dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: IBOEKOE, 2008, hlm. 91.<br />
[2] Sebenarnya pada 1 Juli 1908 telah terbit surat kabar perempuan Bumiputera pertama, yakni Poetri Hindia di Batavia. Namun Poetri Hindia dikendalikan langsung oleh Tirto Adhi Soerjo, dan para perempuan ningrat yang tergabung di jajaran keredaksiannya tidak banyak mengambil peran vital dalam teknis penggarapan maupun penerbitannya. Kendati penerbitan Soenting Melajoe juga atas kuasa Datoek Soetan Maharadja (DSM), namun Siti Roehana Koedoes dan jurnalis perempuan yang tergabung di dalamnya dipercaya mengendalikan koran ini secara penuh.<br />
[3] Tamar Djaja, Roehana Koddoes, Srikandi Indonesia, Jakarta: Penerbit Mutiara, 1980, hlm. 26.<br />
[4] Tentang hubungan keluarga Roehana dan Sjahrir, baca: Rudolf Mrazek, Sjahrir:Politik dan Pengasingan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1996, hlm. 4-5.<br />
[5] Fitriyanti, Roehana Koeddoes:Perempuan Sumatera Barat, Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2001, hlm. 18-19.<br />
[6] Hajar NS, “Siti Roehana Koedoes: Ibu Pers dan Pergerakan Indonesia”, dalam Petrik Matanasi (Ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008, hlm. 186.<br />
[7] Hasil sulam terawang Tuo Sarimin banyak diminati dan dibeli perempuan Belanda. Beberapa kali karya nenenda Roehana itu dipamerkan hingga akhirnya mendapat medali dari pemerintah Hindia Belanda pada 1887.<br />
[8] Pengantar oleh St Kartono, “Masih Ada Guru”, dalam Muhammad Safrinal (Ed.), Sang Guru: Peta Ringkas Hubungan Guru-Murid di Pelbagai Tradisi, Yogyakarta: Ekspresibuku, 2006, hlm. 20.<br />
[9] Selain tidak diperbolehkan oleh mertuanya, beberapa tuduhan tak beralasan dialamatkan kepada Roehana menjelang keberangkatannya ke Eropa. Roehana antara lain dituduh terlibat perselingkuhan dengan seorang pejabat Belanda yang menawarkan tiket ke Eropa.<br />
[10] Poetri Hindia merupakan koran perempuan pertama dan utama yang secara khusus menggalang kaum perempuan sebagai jurnalisnya di bawah asuhan Tirto Adhi Soerjo, perintis pers Bumiputera. Poetri Hindia terbit dua kali dalam sebulan sejak 1908. Selanjutnya baca: Reni Nuryanti, “Poetri Hindia: Kekasih Cantik dan Alus Mas Medan”, dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), op.cit., hlm.49.<br />
[11] Tirto Adhi Soerjo dikenal sebagai perintis pers Bumiputera, orang Indonesia pertama yang menerbitkan koran sendiri. Mengenai biografi Tirto Adhi Soerjo, baca: Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemula, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003. Sementara tentang karya-karya Tirto Adhi Soerjo yang dimuat di berbagai surat kabar sekurun 1902-1912, baca: Iswara N Raditya dan Muhidin M Dahlan (Eds.), Karya-karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo: Pers Pergerakan dan Kebangsaan, Jakarta: IBOEKOE, 2008.<br />
[12] M Yuanda Zara, “Oetoesan Melajoe: Koran Utusan Kaum Adat”, dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), op.cit., hlm. 73.<br />
[13] Gerakan emansipasi perempuan dimungkinkan karena adanya dorongan dari pers. Surat kabar Bumiputera pertama yang memberikan ruang untuk wanita adalah Soenda Berita, terbit tahun 1903. Sebelumnya memang telah ada surat kabar yang diperuntukkan pembaca perempuan, Insulinde, yang terbit di Batavia pada 1902. Namun karena berbahasa Belanda dan diterbitkan bukan oleh Bumiputera, Insulinde dianggap bacaan elit, bukan bagi perempuan Bumiputera.<br />
[14] Iswara N Raditya, “Datoek Soetan Maharadja: Penghulu Adat Berkiblat Barat”, dalam AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007, hlm. 24.<br />
[15] Terdapat seorang lelaki lagi dalam penerbitan Poetri Hindia. Tirto Adhi Soerjo mengajak Raden Tumenggung Adipati Tirtokoesoemo, Bupati Karanganyar sekaligus petinggi Boedi Oetomo (BO), untuk membantu pendanaan dan penerbitan Poetri Hindia.<br />
[16] Hajar NS, “Siti Roehana Koedoes: Membaca Surat kabar Seperti Meminum Air Laut”, dalam AN Ismanto (ed.), op.cit., hlm. 38.<br />
[17] Siti Roehana Koedoes (1918), “Perempoean”, dalam Soenting Melajoe, 13 Desember 1918.<br />
[18] Siti Roehana Koedoes (1920), “Mentjari Isteri”, dalam Soenting Melajoe, 10 Desember 1920.<br />
[19] Dinukil langsung dari Hajar NS dalam Petrik Matanasi (Ed.), 2008, op.cit., hlm.222<br />
[20] Ibid., hlm.221.<br />
[21] Reni Nuryanti, “Soenting Melajoe: Di sini, Nama Roehana Kuddus Terpahat”, dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), loc.cit.<br />
[22] Hajar NS dalam Petrik Matanasi, (Ed.), 2008, op.cit., hlm. 220.<br />
[23] Fadjar Asia dimotori oleh Agus Salim dan Tjokroaminoto, Modjopahit oleh Tjipto Mangoenkoesoemo, Goentoer Bergerak oleh Mas Marco Kartodikromo, dan Sinar Djawa/Sinar Hindia oleh Semaoen.<br />
[24] Perempoean Bergerak terbit sejak 15 Mei 1919 dengan alamat redaksi di Wihelminastraat No 44, Deli. Selanjutnya baca: Dian Andika Winda, “Perempoean Bergerak: Dari Deli untuk Kesetaraan, “dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), op.cit., hlm. 148.<br />
[25] Parada Harahap (1899-1959) adalah jurnalis Bumiputera berjuluk “King of The Java Press”. Seabrek koran pernah digelutinya, antara lain: Benih Merdeka, Sinar Merdeka, Poestaka, Neratja, Bintang Hindia, hingga Bintang Timoer. Selanjutnya baca: Rhoma Dwi Aria Yuliantri, “Parada Harahap: King of The Java Press”, dalam AN Ismanto, (Ed.), op.cit, hlm. 88.<br />
[26] Indische Partij (IP) didirikan pada 1912 oleh Tiga Serangkai: Douwes Dekker, Soewardi Soerjaningrat, dan Tjipto Mangoenkoesoemo. IP adalah organisasi yang terbuka bagi semua golongan dan perhimpunan pertama yang dengan tegas bertujuan untuk kemerdekaan bangsa Hindia (Indonesia). Karena pergerakannya yang dinilai terlalu radikal, IP dibubarkan oleh pemerintah kolonial pada awal 1913. Tiga Serangkai pun kemudian diasingkan ke negeri Belanda selama tahun. Setelah IP bubar, para mantan anggotanya lantas mendirikan Insulinde dengan nafas juang yang sama dengan IP. Mengenai pergerakan IP dan Tjipto Mangoenkoesoemo sebagai salah seorang penggerak IP, baca: M Balfas, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo: Demokrat Sedjati, Jakarta: Djambatan, 1952.<br />
[27] Hajar NS dalam Petrik Matanasi, (Ed.), 2008, op.cit., hlm. 239.<br />
[28] Nasrul Azwar (2007), “Roehana Kudus, Jurnalis Perempuan Dari Sumatra Barat” tersedia di www.ranah-minang.com, diakses pada 6 April 2009.<br />
[29] Riny Yunita (2008), “Roehana Kudus Rintis Suratkabar Perempuan”, tersedia di www.langitperempuan.com, diakses pada 6 April 2009.<br />
[30] &#8212;&#8212;-, “Roehana Kudus”, tersedia di www.wikipedia.org. diakses pada 6 April 2009.<br />
[31] “Roehana Kudus Dianugerahi Bintang Jasa Utama”, dalam Media Indonesia.com, 18 Februari 2008, tersedia di http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=159671, diakses pada 6 April 2009.<br />
Lengkap dengan foto, silakan buka : http://melayuonline.com/article/?a=bUptL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=&amp;l=siti-r&#8230;<br />
13 April 2009 13:56</p>
<p>Oleh: Iswara N. Raditya</p>
<p>Diambil dari : http://fikirjernih.blogspot.com/2009/12/siti-roehana-koedoes-1884-1972-ibu-pers.html#<br />
Jumat, 04 Desember 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakamarola.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakamarola.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakamarola.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakamarola.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakamarola.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakamarola.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakamarola.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakamarola.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakamarola.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakamarola.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakamarola.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakamarola.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakamarola.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakamarola.wordpress.com/354/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=354&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakamarola.wordpress.com/2010/02/19/siti-roehana-koedoes-1884-1972-ibu-pers-pendidikan-dan-pelopor-emansipasi-perempuan-melayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b810c7dc99378ba54d59e5330e25a44d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">marola</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arwana</title>
		<link>http://pustakamarola.wordpress.com/2010/02/16/arwana/</link>
		<comments>http://pustakamarola.wordpress.com/2010/02/16/arwana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 11:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan CERPEN]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang PRRI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakamarola.wordpress.com/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[Kapan ikan tidur dan istirahat? Tidak ada yang tahu. Tidak juga Wali Kota yang memelihara ikan arwana di dalam rumah dinasnya. Ikan itu terus saja berenang dalam akuarium kaca berukuran cukup besar, berputar-putar dengan gagahnya. Sesekali melesat menyambar serangga yang mendekat di luar akuarium. Usaha ikan arwana itu kelihatan bodoh, tapi meyakinkan keganasannya. Siripnya yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=362&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kapan ikan tidur dan istirahat? Tidak ada yang tahu. Tidak juga Wali Kota yang memelihara ikan arwana di dalam rumah dinasnya. Ikan itu terus saja berenang dalam akuarium kaca berukuran cukup besar, berputar-putar dengan gagahnya. Sesekali melesat menyambar serangga yang mendekat di luar akuarium. Usaha ikan arwana itu kelihatan bodoh, tapi meyakinkan keganasannya. Siripnya yang mengilap keperakan kadang-kadang memantulkan sinar lampu yang menyilaukan mata tamu-tamu yang terpesona melihatnya. Tamu-tamu yang menunggu giliran dipanggil ajudan untuk segera menghadap Wali Kota di ruang penerimaan tamu di sebelah ruang duduk itu, seperti tak henti-hentinya terpesona menyaksikan gerakan akrobatik ikan cantik yang garang itu. </p>
<p>Jam dinding yang tiap seperempat jam bermusik nyaring untuk kesekian kalinya bernyanyi menjelang tengah malam. Engku Nawar yang di atas tujuh puluh tahun itu hanya bisa menduga bahwa seperempat jam lagi pukul nol-nol. Rasa capai dan mengantuk sengaja diusirnya dengan paksa, dan tiap sebentar ia membangunkan cucu perempuannya yang berkali-kali tertidur sambil duduk di kursi tamu yang lebar itu. Di kursi-kursi berhadap-hadapan dengan Engku Nawar, duduk enam orang tamu pria dan satu perempuan menunggu panggilan. Tak lama, terdengar bunyi bel dari ruang tamu sebelah. Ajudan setengah berlari membuka pintu, masuk, dan menutup kembali. Beberapa detik, ajudan yang lincah seperti arwana itu muncul lagi sambil tersenyum yang kelihatannya palsu.<br />
<span id="more-362"></span><br />
”Pak Muis, SH dan rombongan, dipersilakan,” kata ajudan itu sambil tergopoh membuka pintu menuju ruang tamu utama. </p>
<p>Ketujuh orang yang duduk di hadapan Engku Nawar tadi ternyata satu rombongan yang melangkah dengan bergegas menuju ruang tamu utama Wali Kota. Engku Nawar menarik nafas panjang. Diikutinya langkah-langkah rombongan terakhir yang menghadap Wali Kota itu dengan rasa cemburu dan sebal. Cemburu pada tamu-tamu yang telah mendahuluinya menemui Wali Kota, dan sebal dengan perlakukan ajudan yang mirip arwana itu. Dengan bahasa kasarnya, ajudan itu tidak saja menyebalkan, tapi sangat kurang ajar terhadap orang tua seperti dirinya yang merasa bukan sembarang orang. </p>
<p>Sehabis magrib, Engku Nawar telah siap bersama cucunya, Sarini, yang lulusan kursus komputer berijazah itu, menuju kediaman Wali Kota yang jauhnya lima belas kilo dari warungnya. Ia memeluk erat Sarini, cucu kesayangannya itu, ketika dibonceng Sarini naik sepeda motor. Dialah yang paling awal datang ke rumah dinas itu dan langsung melapor pada ajudan yang berambut cepak. Dengan rasa bangga ia menyatakan bahwa ia keluarga dekat, bahkan Wali Kota itu sendiri bagaikan anaknya. Oleh karena itu, ia minta izin menemui Wali Kota sebentar saja untuk urusan keluarga. </p>
<p>Ajudan hanya mendengar dengan wajah datar sambil berkata: ”Isi formulir ini, nama, alamat, keperluan, nanti saya sampaikan.” Lelaki tua itu merasa tak mampu lagi menulis, tapi cucunya, Sarini, yang dari tadi memegang map berisi surat-surat penting itu cepat-cepat mengisi formulir itu dan memberikan pena pada kakeknya untuk menandatanganinya. Tak lama, tamu-tamu rombongan dan perorangan silih berganti datang berkendaraan mobil, motor, dan jalan kaki. Semua mengisi formulir yang sama. </p>
<p>Seseorang berpakaian hansip mempersilakan tamu-tamu itu duduk di ruang sebelah rumah jaga di samping rumah gedung kediaman resmi Wali Kota itu. Dari ruang tamu yang terbuka itu, Engku Nawar terpesona dengan pemandangan yang menakjubkannya. Lampu-lampu taman yang besar dan terang, pohon dan tanaman hias serta halaman parkir di belakang yang luas. Semua seperti bermandikan cahaya listrik yang melimpah ruah. Dari percakapan orang-orang, terdengar seseorang berkata: ”Pak Wali lagi makan malam dengan tamu-tamunya dari Jakarta. Sebentar lagi selesai.” </p>
<p>Mendengar pernyataan itu, Engku Nawar berdiri dan mendekati orang yang bicara barusan sambil berbisik. </p>
<p>”Boleh saya menemuinya sebentar saja, habis itu saya pulang. Saya cuma sebentar, barangkali lima menit.” </p>
<p>”Sabar, Pak. Sebentar lagi Bapak juga dipanggil. Tadi sudah isi formulir bukan? Nah, ajudan sudah membawa formulir Bapak itu ke dalam. Tunggu saja. Minum dulu, tuh, minuman datang.” </p>
<p>Seseorang berpakaian seragam datang membawa sekardus air minum kemasan dalam gelas-gelas plastik. </p>
<p>”Silakan Pak, Ibu, yang sudah merasa haus. Ambil saja airnya di sini.” </p>
<p>Engku Nawar mencoba bersabar. Baginya waktu terasa berjalan lambat. Ia merasa sesak duduk beramai-ramai di ruang tamu yang sempit itu. Ia lalu berdiri, keluar dan mencari bangku-bangku beton di taman halaman samping rumah dinas Wali Kota itu bersama Sarini yang mengikutinya dari belakang. Ia amat berharap Wali Kota yang muda dan gagah itu muncul menemuinya di tempat terpisah dari tamu-tamu lain. Meski batuk-batuk dan dilarang cucunya, ia masih mencoba merokok, menghilangkan rasa jenuh. Baju koko terbaik yang dipakainya terasa sangat tipis dari sentuhan angin malam terhadap tubuhnya yang telah ringkih. Ia mempererat belitan sarung di lehernya. Diam dengan pikirannya yang menerawang. Dan, Sarini hanya bisa mengunyah permen karet di samping kakeknya sambil mengasuh harapan-harapannya untuk diterima Wali Kota menjadi pegawai honorer. </p>
<p>Hampir dua tahun lalu, ketika Wali Kota ini terpilih dengan cara demokratis, Engku Nawar merasa sangat bahagia. Wali Kota baru itu adalah putra Kapten Tulus, komandan pasukan PRRI di garis depan yang bermarkas di kaki bukit, tak jauh dari Kampung Padangilalang. Hanya ada satu kincir penggilingan gabah di kampung itu, yakni milik Wali Kampung muda, Engku Nawar, yang dikenal berani. Pada masa itu, tak ada yang mau menjabat sebagai Wali Kampung karena posisinya terjepit di antara dua kekuatan yang sedang berperang, antara pasukan TNI atau yang disebut dengan Tentara Soekarno dan pasukan PRRI yang memberontak. Mau tidak mau, Engku Nawar harus bermuka dua, meski sangat berbahaya. Nyawa tantangannya. Dialah yang menjabat sebagai Wali Kampung yang dipercaya oleh TNI dan Tentara PRRI. </p>
<p>Bagian depan kincir penggilingan gabah itu berfungsi sebagai warung kopi dan sekaligus tempat tinggal Engku Nawar sekeluarga. Kantor Wali Kampung adalah warung itu juga, tempat masyarakat mengurus surat-surat dan KTP. Kalau pasukan TNI patroli ke perbatasan, biasanya mampir di warung kincir itu. Komandan patroli selalu berbincang-bincang dan saling bertukar informasi dengan Engku Nawar. </p>
<p>Lain halnya kalau malam telah larut, Kapten Tulus, komandan pasukan PRRI, dan beberapa orang anak buahnya sering menyusup ke warung kincir itu melalui sungai kecil yang mengalir dengan deras di belakang kincir. Air sungai itulah yang memutar roda kincir penggiling gabah dengan tujuh balok tegak yang menjadi alu penumbuknya. Beras yang dihasilkan kincir itu biasanya diangkut ke kota dengan pedati yang ditarik oleh sapi benggala jantan yang kuat. Tapi, sebagian beras itu dipasok untuk kebutuhan pasukan PRRI di kaki bukit. Hal itu telah berlangsung sejak perang dimulai 15 April 1958, di bulan puasa. Perjanjian rahasia antara Kapten Tulus dan Engku Nawar itu pada tahun pertama belum tercium oleh pihak Tentara Soekarno. Akan tetapi, di mana ada perang, di situ ada pengkhianat yang menyediakan diri untuk jadi mata-mata. Rahasia Engku Nawar akhirnya terbongkar juga oleh pihak Tentara Soekarno. </p>
<p>Suatu malam bergerimis, ketika Engku Nawar dan Kapten Tulus menikmati kopi tubruk di gudang gabah, warung kincir itu dikepung dan ditembaki oleh Tentara Soekarno. Kapten Tulus dan Engku Nawar lolos dari kepungan melalui lubang sumbu roda air penggerak gilingan gabah. Mereka selamat ke kaki bukit melalui sungai kecil yang berhulu di kaki bukit itu. Akan tetapi, dari kejauhan, kedua lelaki itu menyaksikan warung kincir itu terbakar. Istri dan dua anak Engku Nawar yang masih balita ikut jadi abu. </p>
<p>Sejak peristiwa itu, tak ada jalan lain bagi Engku Nawar, kecuali bergabung menjadi tentara pemberontak bersama Kapten Tulus. Esok malamnya, dengan ganas Engku Nawar ikut membumihanguskan pos Brimob yang berjarak tiga kilo dari Kampung Padangilalang bersama pasukan Kapten Tulus. Tak seorang pun anggota Brimob yang lolos di hujan lebat dekat subuh itu. Untunglah perang cepat selesai. Engku Nawar dicarikan jodoh oleh Kapten Tulus, seorang gadis masih sepupu dekat Kapten itu. </p>
<p>Beberapa bulan setelah menjadi Wali Kota putra Kapten Tulus itu, datang menjumpai Engku Nawar. </p>
<p>”Engku Nawar, kalau Engkau sayang sama almarhum bapak saya, juallah tanah kosong di kaki bukit itu kepada pemerintah kota. Tanah itu tidak subur, lebih baik dijadikan uang untuk modal Engku naik haji dan anak cucu.” </p>
<p>”Untuk apa tanah buruk itu sama kamu Indober, anakku?” </p>
<p>”Untuk dijadikan TPA. Tempat pembuangan akhir sampah kota.” </p>
<p>Ketika orang tua itu mengiyakan, Wali Kota bertepuk tangan dan mengumumkan kepada stafnya: ”Orang tua ini adalah orangtua saya juga. Ia bagaikan sepasang sejoli dengan ayah saya dulunya sewaktu masih menjadi tentara pemberontak PRRI. Di mana ada bapak saya, di situ ada Engku Nawar. Semua orang tahu….” </p>
<p>Engku Nawar bangga campur terharu ketika Wali Kota mengumumkan hubungan dan persahabatan almarhum Kapten Tulus dengan dirinya. </p>
<p>”Kapan Engku ada perlu dengan saya, datang saja ke rumah sehabis magrib,” bisik Wali Kota sebelum meninggalkan gubuk Engku Nawar. </p>
<p>Sejak itu, Engku Nawar berubah nasibnya sebagai pemilik warung di depan jalan masuk ke TPA. Sebelumnya, ia hanya jadi pengrajin lidi daun kelapa untuk bahan sapu. Tapi, sejak tanahnya yang di kaki bukit itu dijadikan TPA, ia bisa hidup lebih baik. Warung itu dikelola oleh anak perempuan satu-satunya dengan suaminya yang dulunya jadi sopir oplet. Satu-satunya warung di mulut jalan ke TPA milik Engku Nawar itu makin hari makin ramai. Sopir-sopir truk sampah, para pemulung dan calo-calo tanah, mampir minum kopi di warung itu. Karena ekonomi mulai membaik itulah cucu Engku Nawar dapat menamatkan SMA dan melanjutkan ke kursus komputer di pusat kota. Bahkan, cucunya itu sudah dibelikan sepeda motor. </p>
<p>Tapi, itulah yang membuat Engku Nawar gelisah. Sudah setahun lamanya Sarini tamat kursus komputer, tak satu pun kantor yang mau menerima lamarannya. Padahal, Engku Nawar ingin benar salah seorang keturunannya jadi pegawai pemerintah. Tiap kali ikut tes, Sarini tidak lulus. Orang-orang bilang, mesti pakai uang jutaan. Engku Nawar tidak setuju. Ia mau mengadukan nasib cucunya itu kepada Wali Kota Indober Tulus. Orang- orang bilang, lebih baik menemuinya di rumah. Kalau ke kantor, hampir tidak dapat layanan kalau masalah keluarga.</p>
<p>”Bapak Engku Nawar, dipersilakan menunggu di ruang tunggu dalam,” kata ajudan berambut cepak tadi. Semula, Engku Nawar mengira hanya dia saja yang dipanggil, ternyata semua tamu yang telah terdaftar masuk ke ruang itu. Tapi ia masih berharap, ia akan mendapat giliran pertama, sesuai urutan mendaftar. Dengan sedikit lega, ia masuk bersama puluhan tamu yang hendak bertemu Wali Kota dengan berbagai kepentingan itu. Jam dinding bernyanyi untuk pukul sembilan malam. </p>
<p>Ruang tamu di bagian tengah rumah dinas itu, besar sekali. Tamu sebanyak itu, cukup dapat tempat duduk di sofa yang empuk. Tamu-tamu itu pun disambut oleh pelayan yang menghidangkan semangkuk teh panas untuk masing-masing tamu. Semua seperti diatur oleh ajudan yang berpakaian rapi itu sambil terus memegang kertas-kertas formulir yang telah diisi tamu-tamu. Tiap sebentar ajudan itu keluar masuk ke ruang tamu depan, dengan tanda bel listrik. Sebentar-sebentar menjawab telepon. Kadang- kadang tergopoh-gopoh masuk menerobos pintu yang membatasi ruang itu dengan ruang tamu utama karena telepon itu penting dan dari orang penting untuk Wali Kota. </p>
<p>Di ruang yang terbatas itu, sang ajudan mondar-mandir dengan sikap sigap dan tegas, tanpa banyak senyum. Orang-orang yang sabar menunggu lebih banyak mencurahkan perhatian pada ikan arwana di dalam akuarium, kemudian pada ajudan itu. Keduanya sama-sama lincah. Dan, setiap orang yang dipanggil dan diantar ke ruang tamu utama menghadap Wali Kota, yang lain seperti protes, tapi tidak dinyatakan, kecuali Engku Nawar. </p>
<p>”Sabar, Pak. Ini bukan kemauan saya. Pak Wali yang minta.” </p>
<p>Meski tidak dibantahnya, Engku Nawar tidak percaya. Itu pasti pandai-pandainya ajudan arwana itu. Buktinya? Nomor satu, nomor dua, nomor tiga, dan selanjutnya, Engku Nawar belum juga dipersilakan menghadap. Kalau saja ia tidak tua, ia akan menerobos masuk. Tapi, niat itu ditekannya. Engku Nawar sadar, tugas ajudan itu berat, dan itu pernah dialaminya sewaktu menjadi ajudan Kapten Tulus, orangtua Wali Kota itu. </p>
<p>Ikan arwana yang tetap mondar mandir di dalam akuarium itu kelihatan semakin besar dan terasa makin mendekat ke tempat Engku Nawar duduk sambil berselonjor kaki karena telah penat menunggu. Dan, akuarium itu kelihatan semakin miring ke depan, seperti hendak jatuh dari kedudukannya. Air di dalam akuarium itu berguncang hebat. Engku Nawar merasa pusing dan hendak jatuh ke lantai. Merasa hendak muntah. Ia menoleh dan memegang bahu Sarini kuat-kuat. Tapi Sarini seperti menghindar dan terlempar ke lantai. </p>
<p>”Pak, Pak. Giliran Bapak…” ajudan menggoyang-goyang Engku Nawar yang tertidur di kursi sofa itu. </p>
<p>”Gempa susulan?” </p>
<p>Ajudan tersenyum, meski matanya juga sudah merah. </p>
<p>Engku Nawar mengucek-ucek matanya. Menguap dan cepat tersadar. Wali Kota telah berada di depannya. Wali Kota juga sudah kelihatan lelah dan bermata merah. </p>
<p>”Maaf Engku. Saya hari ini banyak tamu. Kalau Engku ada perlu, tulis saja surat, nanti kasi sama ajudan saya ini di kantor, besok atau lusa lewat pukul dua. Sekarang pulanglah dulu, sudah malam. Atau saya suruh antar pakai sopir?” </p>
<p>”Tidak usah Pak Wali. Saya pulang dibonceng cucu saya ini.” </p>
<p>Wali Kota dan ajudan arwana itu mengantar Engku Nawar yang berjalan tertatih-tatih dibimbing cucunya ke depan pintu. Angin malam menggigilkan Engku Nawar di atas sepeda motor cucunya. Di perjalanan, perutnya terasa mulas hingga ia tak mampu menahan berak di celananya. </p>
<p><strong>Harris Effendi Thahar</strong> (26 Februari 2006)<br />
Rawamangun, 5 Januari 2006 </p>
<p>(<em>Kumpulan Cerpen Kompas 2006</em>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakamarola.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakamarola.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakamarola.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakamarola.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakamarola.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakamarola.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakamarola.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakamarola.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakamarola.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakamarola.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakamarola.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakamarola.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakamarola.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakamarola.wordpress.com/362/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=362&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakamarola.wordpress.com/2010/02/16/arwana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b810c7dc99378ba54d59e5330e25a44d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">marola</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Goenawan Mohamad : Padri #2</title>
		<link>http://pustakamarola.wordpress.com/2009/09/08/goenawan-mohamad-padri-2/</link>
		<comments>http://pustakamarola.wordpress.com/2009/09/08/goenawan-mohamad-padri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 10:59:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paderi dan Imam Bonjol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakamarola.wordpress.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Pada bulan puasa tahun 1818, Thomas Standford Raffles memasuki pedalaman Minangkabau. Ia ingin menemukan kerajaan Pagaruyung. Menurut cerita, kerajaan ini tegak sebelum Islam datang, tapi sejak orang Portugis mendatanginya di tahun 1648 ia tak pernah lagi diketahui orang luar. Pagaruyung hidup bagaikan sebuah kerajaan dongeng, berlanjut sampai hari ini. Syahdan, Raffles praktis tak menemukan petilasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=209&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pada bulan puasa tahun 1818, Thomas Standford Raffles memasuki pedalaman Minangkabau. Ia ingin menemukan kerajaan Pagaruyung.</em></p>
<p>Menurut cerita, kerajaan ini tegak sebelum Islam datang, tapi sejak orang Portugis mendatanginya di tahun 1648 ia tak pernah lagi diketahui orang luar. Pagaruyung hidup bagaikan sebuah kerajaan dongeng, berlanjut sampai hari ini.<br />
Syahdan, Raffles praktis tak menemukan petilasan apa pun. Yang dilihatnya cuma seonggok puing yang dibatasi pohon buah dan nyiur. Tapi, seperti ditulis dengan menarik oleh Jeffrey Hadler dalam Muslims and Matriarchs, (NUS Press, 2009), Raffles mampu merekonstruksi sebuah masa lalu dari fantasi hingga jadi sejarah, mungkin melalui “a feat of archeological alchemy”. Maka lahirlah Pagaruyung yang megah tapi tak bersisa. Konon ia tiga kali terbakar dan reruntuhannya terabaikan selama Perang Padri yang waktu itu baru tiga tahun berlangsung.<br />
<span id="more-209"></span><br />
Bagi Raffles, (ia masih Letnan-Gubernur Inggris di Bengkulu), tema itu penting. Ia seorang Inggris yang tertarik kepada apa saja yang “India”, dan ingin membuktikan adanya kekuasaan Hindu-Melayu yang kemudian runtuh karena datangnya Islam. Tersirat dalam pandangannya, Islam adalah kekuatan pendatang yang tak membangun apa-apa. </p>
<p>Apalagi Islam, bagi Raffles, adalah Islam sebagaimana ditampakkan kaum Padri: sejumlah orang berjubah putih dan bersorban dalam pelbagai bentuk, berjanggut pula, dan jadi variasi lokal dari kaum Wahabi yang keras dan sewenang-sewenang di gurun pasir Arabia.</p>
<p>Pandangannya tentang Islam tak ramah tapi dalam satu hal Raffles tak sepenuhnya salah. Kaum Wahabi yang menguasai Mekkah sejak 1806 sampai dengan 1812 mengumandangkan ajaran yang menampik tafsir apapun tentang Qur’an. Mereka dengan keras menuntut agar kaum muslimin kembali ke teks kitab suci dan Hadith, (seakan-akan sikap mereka sendiri bukan sebuah tafsir), dan di Hijaz mereka bakar kitab, mereka hancurkan kubur dan tempat ziarah, dan mereka habisi orang-orang yang tak sepaham. </p>
<p>Di masa itulah tiga orang haji dari Minangkabau pulang. Mereka tak bisa lagi menerima kebudayaan Minangkabau yang matriarkat. Penampikan mereka radikal. Haji Miskin, salah seorang dari ketiga haji itu, mendirikan desa-desa yang dilingkari tembok, dan mencoba menerapkan sejenis budaya Arab di wilayah pedalaman Sumatra Barat itu. </p>
<p>Sikap radikal itu membuka jalan kekerasan. Dalam buku Hadler dikutip laporan bagaimana Tuanku nan Renceh membunuh bibinya sendiri. Jihad pun dimaklumkan terhadap lapisan sosial yang matriarkal, rumah-rumah gadang dibumihanguskan dan para pemimpin adat dibunuh. Pada 1815, dengan pura-pura mengundang berunding, kaum Padri membinasakan keluarga kerajaan Pagaruyung di dekat Batusangkar.</p>
<p>Baru pada 1821 kekuasaan kolonial Belanda masuk ke kancah sengketa. Tapi konflik bersenjata itu masih panjang, dan barus habis setelah 27 tahun. Apa sebenarnya yang didapat?</p>
<p>Kerusakan, tentu, tapi juga satu titik, ketika orang menyadari bahwa tiap tatanan sosial dibentuk oleh kekurangannya sendiri. Kaum Padri bisa mengatakan bahwa Islam adalah sebuah jalan lurus. Tapi jalan yang paling lurus sekali pun tetap sebuah jalan: tempat orang datang dari penjuru yang jauh dan dekat, berpapasan, tak menetap. Yang menentukan pada akhirnya bukanlah bentuk jalan itu, melainkan orang-orang yang menempuhnya. Islam jalan lurus, tapi Minangkabau akhirnya tak seperti yang dikehendaki kaum Padri.</p>
<p>Orang yang cukup arif untuk menerima ketidak-sempurnaan itu adalah Tuanku Imam Bonjol. Muslims and Matriarchs &#8212; yang dipuji Sejarawan Taufik Abdullah sebagai salah satu buku terbaik tentang Minangkabau selama dua dasawarsa terakhir – menampilkan segi yang menarik dalam hidup tokoh ini.</p>
<p>Imam Bonjol bukanlah tokoh paling agresif dalam gerakan Padri. Tapi sudah sejak awal 1800-an ia ikut membentuk sebuah bentang Padri di Alahan Panjang. Kemudian ia pindah ke Bonjol, yang jadi pusat yang kaya karena berhasil mengumpulkan hasil jarahan perang. Dari sini ia mengatur pembakaran di Koto Gadang dan peng-Islam-an masyarakat Batak di Tapanuli Selatan. Imam Bonjol ulung dalam pertempuran, juga ketika menghadapi pasukan Belanda, karena ia menguasai sumber padi dan tambang emas yang menjamin suplai yang tetap bagi pasukannya.</p>
<p>Tapi ia bukan seorang yang membabi buta dalam soal ajaran. Memoarnya, Naskah Tuanku Imam Bonjol, menyebutkan bagaimana pada suatu hari ia bimbang: benarkah yang dijalankannya sesuai dengan Qur’an? Selama delapan hari ia merenung dan akhirnya ia mengirim empat utusan ke Mekkah. Pada 1832 utusan itu kembali dengan kabar: kaum Wahabi telah jatuh dan ajaran yang dibawa Haji Miskin dinyatakan tak sahih. </p>
<p>Maka Imam Bonjol pun berubah. Ia mengundang rapat akbar para tuanku, hakim, dan penghulu. Ia mengumumkan perdamaian. Ia kembalikan semua hasil jarahan perang. Ia berjanji tak akan mengganggu kerja para kepada adat. Sebuah kompromi besar berlaku. Di tahun 1837, administratior Belanda mencatat bagaimana masyarakat luas menerima formula yang lahir dari keputusan Imam Bonjol itu: “Adat barsan di Sarak dan Sarak barsan di Adat”. </p>
<p>Akhirnya, syariat Islam ternyata tak bisa berjalan sendiri – juga seandainya perang Padri diteruskan. Paguruyung tersisa atau tidak, kerajaan pra-Islam itu hanya mitos atau bukan, tapi ada sesuatu yang tetap bertahan dari masa lampau – sesuatu yang tak tertangkap oleh hukum apapun, sesuatu Entah yang ada bersama sejarah.</p>
<p>Goenawan Mohamad<br />
24 Agust 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakamarola.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakamarola.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakamarola.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakamarola.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakamarola.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakamarola.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakamarola.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakamarola.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakamarola.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakamarola.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakamarola.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakamarola.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakamarola.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakamarola.wordpress.com/209/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakamarola.wordpress.com&amp;blog=5206731&amp;post=209&amp;subd=pustakamarola&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakamarola.wordpress.com/2009/09/08/goenawan-mohamad-padri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b810c7dc99378ba54d59e5330e25a44d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">marola</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
